Sabtu, 02 Juli 2016

Spiritual

"Kak, tyang dot sajan milu care semetone lenan mespiritual, tangkil ke pura-pura, melukat ke beji-beji, pang taen napi nepukin Widhi. Jeg pragat kekene gen gaene, yan sing ngarit ke carik, ngempu pyanak di jumah. Wadih yan kekene ngewai Kak"
Megebris Pekak tyang kedek disubane mireng raos tyang buka keto, sambilange milpilang base misi gambir I Pekak lantas mesaut.....
"Hehehe..... Ngidaang cening tangkil ke pura-pura, lantas maduang rasa ditu, keto mase pepes ane madan mekedas-kedas ngeruruh genah melukat, mekejang ento mula melah Ning. Sakewale, yan sing nyidaang nuut pejalan buka keketo, eda sebet, eda kanti cening merasa wadih.
Spiritual buka penyambat care janine, liu bacakan panegesne. Spirit ento bisa mateges semangat. Yan care cening buka jani ngelah pyanak kurenan, ken-ken carane apanga sida tetep semangat, semangat ngalih gae, meburuh, ngarit, ape ja saluiring geginan, selegang mekejang ento. Nah saluiring mupu lantas geginane, ento anggo ngemertanin dewek ceinge, keto mase pyanak lan kurenan. Yan cening lantas nyambatang wadih ngempu, wadih ngarit, wadih ngelarang geginan urip, sujatine cening suba tusing ngelarang ane madan spiritual, ulian cening tusing buin semangat, tusing ngaad kenehe.
Pengartos spiritual ane len ade mase, Ning. Spirit meartos entitas, entitas ento pang aluh ban Kak nyambatang, mekejang ento ane ngawinang irage maurip. Sukeh ban nolih, sakewale iye ade. Dija ane maurip ento ngoyong? Dija-dija ade, di dewek ceninge ade, di padewekan pyanak kurenan mase ade. Selegang ngayahin pyanak kurenane, yan ngidaang buin, selegang ngayahin pisagane, pakedek pakenyung, ene sujatine suba madan spiritual, tepuk Widhine ane ada di tengah dewek I pyanak, kurenan, keto mase di tengah saluiring maurip ane lenan.
Buka penyambat pare wikane, dewa ade di deweke, yan sing ngidaang nuutin pejalan semetone metirta yatra lan seluirne, selegang dogen ngalih dewane ane di tengah, sambilang ngarit, sambilang ngempu, sambilang nyampat, sambilang ngumbah baju, sambilang ngujang ja, nak sida mase maduang rasa ajak Widhine, Ning.
Nah kema nake malu, jemak arit ajak keranjange, suud malu amonto ngorte, sampine suba gelur-gelur asane, uling dibi konden mentungin padang nang acekel hehehe.....

By Windhu Segara (FB)

Jumat, 01 Juli 2016

Pitutur


"Cening bagus mas ibapa"
Bisa patuhe makejang,
makejang bakat adanin..
Asal Pura ngelah adan,
sami Dewa ngalinggihin..
Dewa mekejang bakat adanin,
Dewa mkejang bakat linggihang..
Saja masih nyandang gugu,
dening puluk mangojahang..
Makejang ajak ngadanin,
mangadanin sane pelih..
Sane liu papak kadenang,
gugu tenget ya takutin..
Da ja sanget guguna,
da papak bakat buduhang..
Ne tidong bakat gugunin,
nyandang gugu, pencare pasangang..
Pura-Sanggah nto sima,,
Pura pinaka lesung,
Pura anggo gegunungan..
Apang ade genah mebakti,
makumpul watek jadmi..
Mangrembugang daya patut,
apang ada anggo sikut..
Genah melutin latah,
apang tusing dadi benyah..
Yening suba putus budi,
apang tusing paling kapti..
Tingkah anggo matuutin,
laksana becik angge manyaurin..
Apang dadi madan sukla,
nyuklayang suwunging budhi..."

Singa Minambara (Pangeran Lor)

Rabu, 27 Januari 2016

Sistem Kasta Di Bali





Sampai saat ini umat Hindu di Indonesia khususnya di Bali masih mengalami polemik. Hal ini menyebabkan ketidaksetaraan status sosial diantara masyarakat Hindu. Masalah ini muncul karena pengetahuan dan pemahaman yang dangkal tentang ajaran Agama Hindu dan Kitab Suci Weda yang merupakan pedoman yang paling ampuh bagi umat Hindu agar menjadi manusia yang beradab yaitu memiliki kemampuan bergerak (bayu), bersuara (sabda) dan berpikir (idep) dan berbudaya yaitu menghormati sesama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa tanpa membedakan asal usul keturunan, status sosial, dan ekonomi.
Banyak Orang terpengaruh terhadap propaganda pandangan orang-orang Barat tentang Kasta, padahal di Hindu (Veda) tidak ada kasta yang ada adalah "‪#‎WARNA‬".
Apa itu ‪#‎KASTA‬ ?
#Kasta, dalam Dictionary of American English disebut :‪#‎Caste_is_a_group_resulting_from_the_division_of_society_based_on_class_differences_of_wealth‬‪#‎rank‬‪#‎rights‬‪#‎profession‬‪#‎or_job‬. Uraian lebih luas ditemukan pada Encyclopedia Americana Volume 5 halaman 775; asal katanya adalah “Casta” bahasa Portugis yang berarti kelas, ras keturunan, golongan, pemisah, tembok, atau batas.
Timbulnya istilah kasta dalam masyarakat Hindu adalah karena adanya proses sosial (perkembangan masyarakat) yang mengaburkan pengertian warna. Pengaburan pengertian warna ini melahirkan tradisi kasta yang membagi tingkatan seseorang di masyarakat berdasarkan kelahiran dan status keluarganya. Istilah "kasta" tidak diatur di dalam kitab suci Weda. Kata "Kasta" itu sendiri dalam bahasa Sanskerta berarti "kayu".
Empat Kasta tidak sama dengan Catur Warna dalam Weda. Kasta tidak pernah ada dalam tradisi Hindu baik Zamannya Wayang Mahabaratamaupun Zaman Majapahit. Kasta mulai ada di India semenjak kedatangan Bangsa Arab dan Kristen, Bangsa Arab dan Kristen terbiasa dengan perbudakan (baca Imamat,timotius dll, Juga An Nisaa, al Mu’kminuum).
Istilah kasta dilekatkan pada agama Hindu mulai ada semenjak Max Muller, menterjemahkan Weda kedalam Bhs Inggris. ‪#‎Max_Muller‬ menterjemahkan Catur Warna sama dengan empat colour/ras. bukti kesalahan Muller: Bagawan Wiyasa (jawa disebut Abiyoso) berkulit hitam, hidung lebar, bibir tebal, mata mellotot, jelas bukan ras Arya yang berkulit terang, hidung mancung, mata biru. Kasta yang kaku tidak pernah ada di India sebelumnya contohnya: Bambang ekalaya seorang rakyat biasa bisa menjadi ksatrya, Radeya anak kusir kereta bisa menjadi adipati/ksatrya, Govinda anak gembala sapi bisa menjadi raja, Narada anak pelayan (Babu) bisa menjadi Brahmana. Di Jawa sebelum runtuhnya Majapahit seorang perampok Ken Arok, bisa menjadi Raja, seorang pengangon kuda, Damar Wulan bisa menjadi Raja Majapahit dengan gelar Brawijaya.
‪#‎Di_Bali_kasta_mulai_ada_semenjak_runtuhnya_majapahit‬. Sebelumnya, pada jaman pemerintahan ‪#‎Sri_Kresna_Kepakisan‬ (‪#‎Raja_Bali_I‬) belum dikenal adanya sistim kasta, saat itu masih mengunakan sistim warna yang sesuai dengan ajaran Dharma. Setelah kedatangan pendeta suci Danghyang Nirarta yang pindah ke bali akibat terdesak kerajaan Islam dan kemudian diangkat jadi penasehat Raja Gelgel. Danghyang Nirarta tiba di Bali sekitar abad 15, hampir bersamaan dengan kedatangan Portugis di India (kerajaan Goa India jatuh ketangan Portugis th. 151) dan Istilah kasta mulai diperkenalkan di India.
Kasta sebenarnya ada di mana-mana ketika peradaban belum begitu maju. Atau kelas-kelas sosial di masyarakat ini berusaha dilestarikan oleh golongan tertentu yang kebetulan “‪#‎berkasta_tinggi‬”. Dari sini muncul istilah-istilah yang sesungguhnya adalah versi lain dari kasta, seperti “‪#‎berdarah_biru‬”, “‪#‎kaum_bangsawan‬” dan sebagainya yang menandakan mereka tidak bisa dan tak mau disamakan dengan masyarakat biasa. Bagi mereka yang berada “‪#‎di_atas‬ ” entah dengan sebutan “darah biru” atau “bangsawan ” umumnya mempunyai komplek pemukiman yang disebut keraton atau puri.
Di masa sekarang ini, kraton atau puri tentu tak punya kuasa apa-apa, namun penghuninya berusaha untuk tetap melestarikannya. Ada pun penerimaan masyarakat berbeda-beda, ada yang mau menghormati ada yang bersikap biasa saja.
Di India kasta itu jumlahnya banyak sekali. Hampir setiap komunitas dengan kehidupan yang sama menyebut dirinya dengan kasta tertentu. Para pembuat gerabah pun membuat kasta tersendiri.
‪#‎Riwayat_Kasta_dibali‬ dimulai ketika Bali dipenuhi dengan kerajaan-kerajaan kecil dan Belanda datang mempraktekkan politik pemecah belah, kasta dibuat dengan nama yang diambilkan dari ajaran Hindu, Catur Warna. Lama-lama orang Bali pun bingung, yang mana kasta dan yang mana ajaran Catur Warna. Kesalah-pahaman itu terus berkembang karena memang sengaja dibuat rancu oleh mereka yang terlanjur “berkasta tinggi”.
Pada masyarakat Hindu di Bali, terjadi ‪#‎kesalahan_pahaman_kasta_dibali‬ dan kekaburan dalam pemahaman dan pemaknaan warna, kasta, dan wangsa yang berkepanjangan. Dalam agama Hindu tidak dikenal istilah Kasta. Istilah yang termuat dalam kitab suci Veda adalah Warna. Apabila kita mengacu pada Kitab Bhagavadgita, maka yang dimaksud dengan Warna adalah ‪#‎Catur_Warna‬ , yakni pembagian masyarakat menurut Swadharma (profesi) masing-masing orang. Sementara itu, yang muncul dalam kehidupan masyarakat Bali adalah Wangsa, yaitu sistem kekeluargaan yang diatur menurut garis keturunan. Wangsa tidak menunjukkan stratifikasi sosial yang sifatnya vertikal (dalam arti ada satu Wangsa yang lebih tinggi dari Wangsa yang lain). Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada warga masyarakat yang memiliki pandangan bahwa ada suatu Wangsa yang dianggap lebih tinggi daripada Wangsa yang lain. Untuk merubah pandangan seperti ini memang perlu sosialisasi dan penyamaan persepsi. Oleh karena itu, lebih baik tidak diperdebatkan lagi.
Yang jadi persoalan, ketika kasta diperkenalkan di Bali di masa penjajahan itu, nama-nama yang dipakai adalah nama Catur Warna: Brahmana, Kesatria, Wesya, Sudra. Jadi, pada saat itu semua fungsi Catur Warna diambil alih oleh kasta, termasuk gelarnya.
Celakanya kemudian, gelar-gelar itu diwariskan turun temurun, diberikan kepada anak-anaknya tak peduli apakah anak itu menjalankan fungsi sosial yang sesuai dengan ajaran Catur Warna atau tidak. Contohnya, kalau orang tuanya bergelar Cokorde, jabatan raja untuk di daerah tertentu, anaknya kemudian otomatis diberi gelar Cokorde pada saat lahir. Kalau orangtuanya Anak Agung, juga jabatan raja untuk daerah tertentu, anaknya yang baru lahir pun disebut Anak Agung. Demikianlah bertahun-tahun, bahkan berganti abad, sehingga antara kasta dan ajaran Catur Warna ini menjadi kacau.
Dalam pergaulan sehari-hari pun masyarakat yang berkasta sudra (Jaba) berkedudukan sangat rendah. Seperti misalnya seorang yang berasal dari kasta sudra harus menggunakan Sor Singgih Basa, untuk menghormati kasta-kasta yang lebih tinggi.
Kasta itu dibuat dan dikemas sesuai dengan garis keturunan Patrinial, diantaranya:
1. ‪#‎Kasta_brahmana‬ merupakan kasta yang memiliki kedudukan tertinggi, dalam generasi kasta brahmana ini biasanya akan selalu ada yang menjalankan kependetaan. Dalam pelaksanaanya seseorang yang berasal dari kasta brahmana yang telah menjadi seorang pendeta akan memiliki sisya, dimana sisya-sisya inilah yang akan memperhatikan kesejahteraan dari pendeta tersebut, dan dalam pelaksanaan upacara-upacara keagamaan yang dilaksanakan oleh anggota sisya tersebut dan bersifat upacara besar akan selalu menghadirkan pendeta tersebut untuk muput upacara tersebut. Dari segi nama seseorang akan diketahui bahwa dia berasal dari golongan kasta brahmana, biasanya seseorang yang berasal dari keturunan kasta brahmana ini akan memiliki nama depan “Ida Bagus untuk anak laki-laki, Ida Ayu untuk anak perempuan, ataupun hanya menggunakan kata Ida untuk anak laki-laki maupun perempuan”. Dan untuk sebutan tempat tinggalnya disebut dengan "Griya".
2. ‪#‎Kasta_Ksatriya‬ merupakan kasta yang memiliki posisi yang sangat penting dalam pemerintahan dan politik tradisional di Bali, karena orang-orang yang berasal dari kasta ini merupakan keturuna dari Raja-raja di Bali pada zaman kerajaan. Namun sampai saat ini kekuatan hegemoninya masih cukup kuat, sehingga terkadang beberapa desa masih merasa abdi dari keturunan Raja tersebut. Dari segi nama yang berasal dari keturunan kasta ksariya ini akan menggunakan nama “Anak Agung, Dewa Agung, Tjokorda, dan ada juga yang menggunakan nama Dewa”. Dan untuk nama tempat tinggalnya disebut dengan "Puri". Sedangkan Masyarakat yang berasal dari keturunan abdi-abdi kepercayaan Raja, prajurit utama kerajaan, namun terkadang ada juga yang merupakan keluarga Puri yang ditempatkan diwilayah lain dan diposisikan agak rendah dari keturunan asalnya karena melakukan kesalahan sehingga statusnya diturunkan. Dari segi nama kasta ini menggunakan nama seperti I Gusti Agung, I Gusti Bagus, I Gusti Ayu, ataupun I Gusti. Dimana untuk penyebutan tempat tinggalnya disebut dengan "Jero".
3. ‪#‎Kasta_Sudra‬ (Jaba) merupakan kasta yang mayoritas di Bali, namun memiliki kedudukan sosial yang paling rendah, dimana masyarakat yang berasal dari kasta ini harus berbicara dengan Sor Singgih Basa dengan orang yang berasal dari kasta yang lebih tinggi atau yang disebut dengan Tri Wangsa - Brahmana, Ksatria dan Ksatria (yang dianggap Waisya). Sampai saat ini masyarakat yang berasal dari kasta ini masih menjadi parekan dari golongan Tri Wangsa. Dari segi nama warga masyarakat dari kasta Sudra akan menggunakan nama seperti berikut : Wayan, Made, Nyoman dan Ketut. Dan dalam penamaan rumah dari kasta ini disebut dengan "umah".
Pada jaman dahulu, kasta sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Hindu di Bali. Kasta di Bali mulai kental saat masa penjajahan Belanda, sehingga penjajah dapat dengan leluasa memisahkan raja dengan rakyatnya. Selama berabad-abad penduduk Bali telah diajari bahwa kasta yang tinggi harus lebih dihormati, sehingga bila kita berbicara dengan orang yang berkasta tinggi, baik lebih muda, lebih tua, atau seusia, kita harus menggunakan bahasa bali yang halus. Tetapi bila bicara dengan orang berkasta rendah, kita tidak diwajibkan menggunakan bahasa halus.
Misalnya ada seorang ketua organisasi berkasta Waisya, dengan salah seorang anggotanya berkasta Brahmana. Secara otomatis, ketua organisasi tersebut harus menggunakan kata-kata yang halus kepada anggotanya yang berkasta brahmana tersebut. Ada juga kasus seperti seorang guru yang memiliki kasta lebih rendah dari muridnya. Guru tersebut harus berkata sopan kepada muridnya yang berkasta tinggi. Walau begitu, bukan berarti sang murid dapat bertindak sewenang-wenang seperti berkata tidak sopan terhadap gurunya.
Selain perbedaan dalam menggunakan bahasa, kasta juga mempengaruhi tatanan upacara adat dan agama, seperti pernikahan, dan tempat sembahyang. Pada Pura-Pura besar (seperti Pura Besakih), semua kasta bisa sembahyang dimana saja, tetapi pada Pura-Pura tertentu yang lebih kecil, ada pembagian tempat sembahyang antara satu kasta dengan kasta yang lain, agar tidak tercampur.
Kasta juga sangat sering menjadi pro dan kontra, terutama dalam masalah pernikahan. Pada jaman dulu, masyarakat Bali tidak diperbolehkan menikah dengan kasta yang berbeda, layaknya pernikahan beda agama dalam Islam. Seiring perkembangan jaman, aturan tersebut seharusnya sudah tidak berlaku lagi. Namun sebagian penduduk Bali masih ada yang mempermasalahkan pernikahan beda kasta.
Pernikahan dengan kasta yg berbeda dibolehkan dengan syarat kasta yang perempuan harus mengikuti yg laki-laki. Jika kasta perempuan dari kasta yg tinggi, menikah dng kasta yg lebih rendah, maka kasta si perempuan akan turun mengikuti suaminya. Begitu juga sebaliknya, Karena di Bali laki-lakilah yg menjadi ahli waris dari generasi sebelumnya.
Pernikahan beda kasta sendiri ada dua macam, yaitu :
• Kasta istri lebih rendah dari kasta suami. Pernikahan beda kasta inilah yang sudah sering terjadi di Bali. Pernikahan semacam ini biasanya memberikan kebanggan tersendiri bagi keluarga perempuan, karena putri mereka berhasil mendapatkan pria dari kasta yang lebih tinggi. Dan secara otomatis kasta sang istri juga akan naik mengikuti kasta suami. Tetapi, sang istri harus siap mendapatkan perlakuan yang tidak sejajar oleh keluarga suami. Saat upacara pernikahan, biasanya batenan untuk mempelai wanita diletakan terpisah, atau dibawah. Bahkan dibeberapa daerah, sang istri harus rela melayani para ipar dan keluarga suami yang memiliki kasta lebih tinggi. Walaupun jaman sekarang hal tersebut sudah jarang dilakukan, tapi masih ada beberapa orang yang masih kental kasta-nya menegakan prinsip tersebut demi menjaga kedudukan kasta-nya.
• Kasta istri tinggi dari kasta suami. Pernikahan beda kasta seperti ini sangat dihindari oleh penduduk Bali. Karena pihak perempuan biasanya tidak akan mengijinkan putri mereka menikah dengan lelaki yang memiliki kasta lebih rendah. Maka dari itu, biasanya pernikahan ini terjadi secara sembunyi-sembunyi atau biasa disebut sebagai "ngemaling" atau kawin lari sebagai alternatifnya. Kemudian, perempuan yang menikahi laki-laki yang berkasta lebih rendah akan mengalami turun kasta mengikuti kasta suaminya, yang disebut sebagai "nyerod". Menurut kabar, sebagian besar penduduk bali lebih menyukai dan lebih dapat menerima laki-laki yang bukan orang Bali sebagai menantu, dari pada menikah dengan laki-laki berkasta lebih rendah, dan mengalami penurunan kasta.
#WARNA, apakah itu ?
Keterangan yang cukup menarik tentang Catur Warna yang sering dikaburkan dengan kasta dapat kita lihat dalam kitab Pancamo Weda (Bhagavad-Gita) yang menjelaskan struktur masyarakat berdasarkan Warna. Menurut isi dari Bhagavad-Gita ini pembagian masyarakat menjadi empat kelompok- kelompok yang disebut warna itu, terjadi karena pengaruh "guna" yang merupakan unsur pembawaan sejak lahir (bakat).
Dalam hubungan ini dijelaskan sistem warna itu atas dasar pengertian fisik.
Di dalam Bab Karma Kanda-nya dijelaskan bahwa dunia aktif (bergerak, bekerja) dan gerak ini disebabkan oleh guna itu sendiri. Ada tiga macam guna dikemukakan yaitu :
1. Satwam, kebajikan
2. Rajah, keaktifan
3. Tamah, kepasifan atau masa bodoh
Sifat-sifat ini selanjutnya memberikan pengaruh lebih luas lagi sehingga menimbulkan warna dalam kelahiran manusia di dunia. Seseorang yang kelahirannya diwarnai oleh Guna Satwam akan menampilkan sifat- sifat kesucian, kebajikan, dan keilmuan. Seseorang yang diwarnai oleh Guna Rajah akan menampilkan kehidupan yang penuh kreatif, ingin berkuasa, ingin menonjol. Berbeda dengan seseorang yang kehidupannya diwarnai oleh Guna Tamah, akan selalu menampakkan sifat-sifat malas, bodoh, pasif, lamban dalam segala-galanya.
Ketiga sifat ini terdapat di dalam setiap tubuh manusia yang lahir dan masing- masing guna ini berjuang saling mempengaruhi dalam badan manusia. Bagi mereka yang teguh iman maka Satwam itulah yang menguasainya, sedangkan Rajah dan Tamah itu akan diatasi seluruhnya. Sebaliknya kalau Rajah lebih kuat, maka Tamah dan Satwam itu akan ditundukkannya. Begitu pula apabila Tamah yang berkuasa, maka Rajah dan Satwam akan ditundukkannya. Dengan jalan seperti inilah Bhagavad-Gita menjelaskan timbulnya garis perbedaan pembawaan seseorang yang disebut Warna kelahiran dari kecenderungan sifat- sifat guna itu.
Dalam Bhagavadgita percakapan ke-IV sloka ke-13 ditulis:
Chatur Varnyam Maya Srishtam,
Guna Karma Vibhagasah,
Tasya Kartaram Api Mam,
Viddhy Akartaram Avyayam
artinya:
Catur warna adalah ciptaan-Ku, menurut pembagian kualitas dan kerja, tetapi ketahuilah walaupun penciptanya, Aku tidak berbuat dan mengubah diri-Ku.
Warna adalah profesi atau bidang kerja yang dilaksanakan seseorang menurut bakat dan keahliannya; tidak ada perbedaan derajat diantaranya karena masing-masing menjalankan karma dengan saling melengkapi.
Mantram-mantram dari Yajurveda sloka ke-18, 48 antara lain berbunyi :
Rucam No Dhehi Brahmanesu,Rucam Rajasu Nas Krdhi,Rucam Visyesu Sudresu,Mayi Dhehi Ruca Rucam
artinya:
Ya Tuhan Yang Maha Esa bersedialah memberikan kemuliaan pada para Brahmana, para Ksatriya, para Vaisya, dan para Sudra. Semoga Engkau melimpahkan kecemerlangan yang tidak habis-habisnya kepada kami.
Yajurveda Sloka ke 30, 5 berbunyi:
Brahmane Brahmanam, Ksatraya, Rajanyam, Marudbhyo Vaisyam, Tapase Sudram
artinya:
Ya Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan Brahmana untuk pengetahuan, para Ksatriya untuk perlindungan, para Vaisya untuk perdagangan, dan para Sudra untuk pekerjaan jasmaniah.
Profesi yang empat jenis itu adalah bagian-bagian (berasal) dari Tuhan Yang Maha Esa yang suci, diibaratkan sebagai anatomi tubuh manusia dalam tatanan masyarakat, sebagaimana Yajurveda sloka 31, 11 menyatakan:
Brahmano Asya Mukham Asid,Bahu Rajanyah Krtah,Uru Tadasya Yad Vaisyah,Padbhyam Sudro Ajayata
artinya:
Brahmana adalah mulut-Nya Tuhan Yang Maha Esa, Ksatriya lengan-lengan-Nya, Vaisya paha-Nya, dan Sudra kaki-kaki-Nya.
Selanjutnya doa yang mengandung harapan agar masing-masing profesi/ warna melaksanakan swadharma yang baik terdapat pada Yajurveda sloka 33,81 :
Pravakavarnah Sucayo Vipascitah
artinya:
para Brahmana seharusnya bersinar seperti api, bijak, dan terpelajar.
Yajurveda sloka 20,25 :
Yatra Brahma Ca Ksatram Ca,Samyancau Caratah Saha,Tam Lokam Punyam Prajnesam,Yatra Devah Sahagnina
artinya:
di negara itu seharusnya diperlakukan warga negaranya sebaik mungkin, di sana para Brahmana dan para Kesatriya hidup di dalam keserasian dan orang-orang yang terpelajar melaksanakan persembahan (pengorbanan).
Bhagawata Purana
Di dalam Bhagawata Purana dan Smrti Sarasamuçcaya pasal 63 dengan tegas dijelaskan bahwa sebenarnya tidak ada suatu warna kalau tanpa dilihat dari segi perbuatannya.
Dari perbuatan dan sifat-sifat seperti tenang, menguasai diri sendiri, berpengetahuan suci, tulus hati, tetap hati, teguh iman kepada Hyang Widhi, jujur adalah gambaran seseorang yang berwarna Brahmana. Tetapi orang yang gagah berani, termasyhur, suka memberi pengampunan, perlindungan maka mereka itulah yang disebut Ksatrya.
Sukra Niti
Purana Sukra Niti memberi keterangan bahwa keempat warna itu tidak ditentukan oleh kelahiran, misalnya dari keluarga Brahmana lalu lahir anak Brahmana juga, tetapi sifat dan perbuatan mereka itulah yang menentukan sehingga mereka menjadi demikian seperti adanya empat warna itu.
Wiracarita Mahabarata
Di sini dijelaskan bahwa sifat-sifat Brahmana ialah: jujur, suka beramal/ berderma, pemaaf, pelindung, takwa, cenderung untuk melakukan pertapaan. Dan dijelaskan pula bahwa kelahiran anak dari seorang Sudra yang dikatakan mempunyai sifat- sifat seperti tersebut di atas, mereka bukanlah Sudra tetapi mereka adalah Brahmana. Tetapi seorang keturunan Brahmana yang tidak mempunyai sifat- sifat seperti itu, maka ia sesungguhnya Sudra.
Dari sumber- sumber tersebut di atas kita peroleh suatu pandangan dan pengertian yang sama mengenai Catur Warna, yaitu merupakan pembidangan karya dan sikap mental manusia yang mewarnai pengabdiannya dalam swadharma masing-masing. Warna itu realistis dan idealnya semua profesional berbuat sebaik-baiknya untuk kepentingan bersama dan kesejahteraan umat manusia.
Wiana (2000) menjelaskan perbedaan antara warna dan kasta. Warna merupakan penggolongan masyarakat berdasarkan fungsi dan profesi. Dalam ajaran Agama Hindu dikenal adanya empat warna/Catur Warna yaitu :
1. Brahmana orang-orang yang menekuni kehidupan spiritual dan ketuhanan, para cendikiawan serta intelektual yang bertugas untuk memberikan pembinaan mental dan rohani serta spiritual. Atau seseorang yang memilih fungsi sosial sebagai rohaniawan.
2. Ksatria-orang orang yang bekerja / bergelut di bidang pertahanan dan keamanan/pemerintahan yang bertugas untuk mengatur negara dan pemerintahan serta rakyatnya. Atau seseorang yang memilih fungsi sosial menjalankan kerajaan: raja, patih, dan staf - stafnya. Jika dipakai ukuran masa kini, mereka itu adalah kepala pemerintahan, para pegawai negeri, polisi, tentara dan sebagainya.
3. Waisya-orang yang bergerak dibidang ekonomi, yang bertugas untuk mengatur perekonomian atau seseorang yang memilih fungsi sosial menggerakkan perekonomian. Dalam hal ini adalah pengusaha, pedagang, investor dan usahawan (Profesionalis) yang dimiliki Bisnis / usaha sendiri sehingga mampu mandiri dan mungkin memerlukan karyawan untuk membantunya dalam mengembangkan usaha / bisnisnya.
4. Sudra -orang yang bekerja mengandalkan tenaga/jasmani, yang bertugas untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan menjadi pelayan atau pembantu orang lain atau seseorang yang memilih fungsi sosial sebagai pelayan, bekerja dengan mengandalkan tenaga. seperti: karyawan, para pegawai swasta dan semua orang yang bekerja kepada Waisya untuk menyambung hidupnya termasuk semua orang yang belum termasuk ke Tri Warna diatas.
Warna dan gelar serta namanya sama sekali tidak diturunkan atau diwariskan ke generasi berikutnya. Warna tidak bersifat statis, tetapi dinamis. Artinya, warna bisa berubah setiap saat sesuai dengan fungsi dan profesinya. penggolongan ini tidak diturunkan, Artinya kalau sang Ayah Brahmana tidak otomatis anaknya menjadi Brahmana.
Menurut Veda, Brahmana menempati posisi yang diagungkan, artinya Veda mendukung masyarakat yang dipimpin oleh orang-orang Intelektual/Bijaksana (Civil society) dan tidak sekedar kekuasaan/kekuatan.
Apa yang terjadi di India adalah distorsi dari ajaran-ajaran Veda, di Indonesia sendiri kasta tidak ada, yang ada adalah wangsa (garis leluhur).
Wangsa yang ada di Bali sebagai contoh hanya sebagai pengenal bahwa garis leluhurnya mereka dahulu berasal dari keluarga tertentu :
misalnya :
soroh pande, artinya keluarga mereka pada jaman dahulu adalah " pengrajin/pande-besi ",
Arya Kenceng Tegeh Kori contoh lain artinya jaman dahulu keluarga mereka dari kelompok "Arya" (ksatria yang berasal dari jawa masuk ke Bali)
Jadi tidaklah benar kalau umat Hindu itu mengenal kasta, ini merupakan bentuk pelecehan. Maka masyarakat Bali dan nama Hindu menjadi buruk, banyak saudara - saudara dibali masih salah paham tentang Kasta, apalagi orang-orang lain yang tinggal di luar Bali. mungkin karena Umat Hindu kurang mensosialisasikan secara gamblang apa itu wangsa/warna.
contoh :
nama saya misalnya “I Wayan Bagus”, dan leluhur saya dulu adalah Ksatria yaitu keturunan Dalem Tarukan, apakah saya sudra??? Tentu bukan!
Karena Saya seorang Pegawai Pemerintahan bekerja mengabdikan diri pada negara. Maka saya seorang KESATRIA - Pegawai pemerintah (punggawa istana)
• Siapa itu para SUDRA ???
Para sudra adalah orang – orang yang bekerja di swasta, buruh, konsultan dan atau orang yang digaji orang lain karena usaha kerja kerasnya.
• Siapa itu para WESIA ???
Para wesia adalah orang – orang yang Pemilik Usaha, Bisnisman, Investor yang memiliki karyawan dan menggaji orang lain untuk kemajuan usahanya.
• Siapa itu para BRAHMANA ???
Para brahmana adalah orang – orang yang berprofesi sebagai guru, guru spiritual, pemangku (pinandita) dan Pandita (begawan, mpu, pedanda).
Hubungan di antara golongan pada warna hanya dibatasi oleh “dharma”-kewajiban yang berbeda-beda tetapi menuju satu tujuan yakni kesempurnaan hidup. Jadi, catur warna sama sekali tidak membeda-bedakan harkat dan martabat manusia dan memberikan manusia untuk mencari jalan hidup dan bekerja sesuai dengan sifat, bakat, dan pembawaannya sejak lahir hingga akhir hayatnya.
Sedangkan kasta merupakan penggolongan status sosial masyarakat dengan mengadopsi konsep catur warna (brahmana, ksatria, wesyia, dan sudra) yang gelar dan atribut namanya diturunkan dan diwariskan ke generasi berikutnya. Artinya, walaupun keturunannya tidak lagi berprofesi sebagai pendeta atau pedanda tetapi masih menggunakan gelar dan nama yang dimiliki leluhurnya yang dulunya menjadi pendeta atau pedanda. Ini sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang yang belum tentu atau tidak memiliki sifat-sifat brahmana harus disebut sebagai brahmana, dan juga terjadi pada kasta yang lainnya.
Terlebih lagi nama dan gelar warisan masing-masing leluhurnya sekarang ini semakin diagung-agungkan dan digunakan untuk mempertajam kesenjangan di antara golongan kasta yang ada. Tetapi, jika nama dan gelarnya yang dipakai keturunannya hanya dijadikan sebagai tanda penghormatan kepada leluhurnya, maka tindakan ini merupakan tindakan yang sangat mulia dan terhormat.
Menurut Agus Salim Pola perubahan sosial ada dua macam yaitu :
1. datang dari negara (state),
2. datang dari bentuk pasar bebas (free market).
Perubahan yang dikelola oleh pemerintah berorientasi pada ekonomi garis komando yang datang secara terpusat, sedangkan dari pasar bebas-campur tangan pemerintah sangat terbatas. Negara memberi pengaruhnya secara tidak langsung, sehingga pasar bebas lebih dominan. Jika pada bagian struktur kekuasaan masyarakat Bali telah disampaikan bagaimana sistem kekuasaan Bali melalui sistem kasta, namun setelah mendapat pengaruh globalisasi kehidupan masyarakat Bali yang diwujudkan dalam usaha pengalihan sistem kasta menjadi sistem warna. Adapun gambaran mengenai sistem warna dapat dijelaskan sebagai berikut.
Bagi sebagian orang di Indonesia dan mungkin sebagian masyarakat Bali tidak mengenal sistem Warna dalam masyarakat Bali karena selama ini mengenal bahwa sistem pembagian masyarakat Bali hanya berdasarkan kasta saja. Namun tidak dapat dipungkiri memang kasta telah menjadi suatu sistem pengelompokan dan pemetaan kuasa masyarakat di Bali.
Warna adalah suatu sistem pembagian atau pengelompokan masyarakat berdasarkan fungsi yang dilaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Jika seseorang tersebut bekerja sebagai seorang pendeta atau menjalankan fungsi-fungsi kependetaan maka dia akan berfungsi sebagai warna brahmana, jika orang tersebut bekerja sebagai pemimpin di masyarakat maka dia akan berfungsi sebagai wangsa ksatriya, atau jika seseorang bekerja sebagai seorang pejabat penting lainnya dia akan disebut sebagai orang yang menjalankan warna weisya, dan jika seseorang yang melaksanakan pekerjaan sehari-harinya sebagai buruh atau tenaga lepas dari seseorang maka ia dikatakan sebagai seseorang yang menjalankan fungsi sebagai warna sudra.
Akhir-akhir ini perdebatan mengenai kasta dan warna di Bali semakin menuai banyak pendapat, baik itu yang bersifat menerima apa adanya sebagai warisan leluhur, ada yang mencoba mengkritisi sebagai bentuk protes sosial dan upaya untuk menciptakan sirkulasi elit, ada yang mencoba memilahnya sesuai dengan situasi yang ada misalnya menerapkan konsep kasta ketika pada situasi adat istiadat namun menerima sistem warna sebagai praktek dalam kehidupan modern, dan terakhir ada yang menganggap bukan permasalahan serius ketika kekuasaan bisa diraih dengan berbagai macam cara.
Salah satu pendapat yang mencoba mengkritisi kasta dan warna, sebagaimana yang disampaikan oleh Made Kembar Kerepun, bahwa sistem Kasta di Bali merupakan sebuah rekayasa yang dibuat oleh masyarakat di Bali yang sangat cerdas dimana untuk menguatkan rekayasa tersebut para masyarakat yang disebut dengan aktor cerdas tersebut dengan sengaja membuat acuan-acuan dalam teks yang dalam kehidupan masyarakat Bali disebut dengan lontar yang bertujuan untuk membuat perlindungan utuk menguatkan rekayasa tersebut, dimana penulis mengemukakan sebagai payung hukum, dan pembenar. Made Kembar juga menyampaikan bahwa dengan adanya rekayasa tersebut telah merugikan, mensubordinasi, memarjinalkan, bahkan mendiskriminasi kaum di luar lingkungan Tri Wangsa dalam kehidupan sehari-hari.
Di Bali tranformasi kekuasaan pada masyarakat ditunjukkan oleh terjadinya pergeseran pada pemegang kekuasaan. Dimana pada kekuasaan dengan sistem kasta menempatkan Puri sebagai penguasa penuh, namun dengan adanya pengaruh pandangan baru terhadap masyarakat Bali merubah peta kekuasaan itu sendiri yang ditandai dengan lahirnya elit-elit baru di masyarakat Bali.
Selain dari dominasi terhadap jabatan Pemerintahan (Gurbernur dan Bupati), indikasi terhadap memudarnya kekuasaan Puri – puri di bali juga bisa dilihat dari munculnya elit-elit baru yang mampu menguasai sumber-sumber ekonomi masyarakat Bali. Dengan pengaruh globalisasi dengan sistem kapitalismenya adanya elit baru di bidang ekonomi tersebut membuat terjadinya pergeseran pandangan masyarakat terhadap siapa yang berkuasa, karena dengan melihat kondisi perekonomian masyarakat Karangasem maka masyarakat akan cenderung “ikut” pada pemilik modal.
Kekacauan Sistim kemasyarakatan antara KASTA dan WARNA ini lama-lama menjadi kesalah-pahaman. Konsep kasta sangat bertentangan dengan konsep warna dalam ajaran agama hindu. Namun, kesalahan pemahaman tentang kasta dan warna masih saja terjadi dan terus berlangsung hingga sekarang ini. Misalnya, ada anggapan bahwa yang berhak menjadi rohaniawan (pendeta Hindu) hanyalah mereka yang keturunan Brahmana versi kasta, yang nama depannya biasanya Ida Bagus. Mereka yang tak punya nama depan Ida Bagus disebut bukan keturunan Brahmana, jadi tak bisa menjadi pendeta. Begitu pula kasta lainnya, yang berhak menjadi pemimpin hanya keturunan Kesatria. Orang seperti I Made Mangku Pastika yang tak punya “nama gelar” tak akan bisa menjadi pemimpin karena kastanya hanya Sudra. Kenyataan saat ini tentu sudah beda. Saya sendiri yang saat walaka (sebelum menjadi pendeta) bukan bernama awal Ida Bagus, toh nyatanya bisa menjadi pendeta atau Brahmana saat ini. Jika terjadi kesalahpahaman yang berkelanjutan maka tidak tertutup kemungkinan akan terjadi konflik, perpecahan, dan kekacauan di masa yang akan datang.
Tidak dapat dipungkiri banyak konflik yang terjadi akibat perbedaan kasta ini, seperti Konflik antar masyarakat yang terjadi pada Bulan Maret 2007 di Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung-Bali merupakan salah satu buntut dari tidak harmonisnya hubungan antara kaum brahmana dan sudra. Puluhan rumah kaum “kasta brahmana ” dirusak dan dihanguskan oleh masyarakat sehingga masyarakat yang rumahnya hancur harus dievakuasi dan diamankan serta ditampung di MAPOLRES (Markas Polisi Resor) Klungkung. Perlu dipertanyakan kenapa ini terjadi? Tak bisa dibayangkan lagi bagaimana benci dan marahnya masyarakat terhadap kaum brahmana sehingga tega melakukan hal-hal yang anarkis ini. Belum ada penjelasan dari aparat berwenang mengenai penyebab kejadian ini. Walaupun demikian, patut diacungi jempol para masyarakat di sana bisa berdamai dan hidup berdampiangan kembali serta membuat pernyataan damai di antara masyarakat yang berkonflik.
Demikianlah kesalah-pahaman itu, akhirnya dikoreksi terus menerus setelah majelis agama Hindu (Parisada Hindu Dharma Indonesia) berdiri pada 1959. Jauh sebelumnya, yakni pada 1951, DPRD Bali sudah menghapus larangan perkawinan “antar-kasta” yang merugikan “Kasta” bawah seperti Sudra.
Kesulitan yang dihadapi dalam menghapus Kasta di Bali itu tentu karena masalah ini sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun, bahkan berganti abad. Namun yang menyebabkan kesalah-pahaman itu bisa dijernihkan adalah adanya toleransi dan merupakan kesepakatan yang tak perlu ditulis, yakni masyarakat akhirnya memperlakukan nama-nama depan yang dulu merupakan gelar pemberian penjajah tetap bisa dipakai sebagai nama keturunan. Tetapi tidak ada kaitan dengan fungsi sosial, juga tak ada kaitan dengan ajaran Catur Warna. Artinya, siapa pun berhak menjadi Brahmana (rohaniawan atau pendeta), tidak harus dari keluarga Ida Bagus. Siapa pun berhak menjadi pemimpin (misalnya Bupati atau Gubernur), tak harus dari yang bergelar Kesatria versi kasta masa lalu.
Era modernisasi ikut mengubur perjalanan kasta di Bali. Banyak orang yang tidak memakai nama depan yang “berbau kasta”, dan nama itu hanya dipakai untuk kaitan upacara di lingkungan keluarga saja. Apalagi nama-nama orang Bali modern sudah kebarat-baratan atau ke india-indiaan. Juga faktor pekerjaan di mana orang yang dulu disebut berkasta Sudra, misalnya, kini memegang posisi penting, sementara yang berkasta di atasnya menjadi staf. Dengan demikian hormat-menghormati sudah tidak lagi berkaitan dengan “ KASTA ” yang feodal itu.
Ketika Mayor Jenderal Polisi I Made Mangku Pastika mencalonkan diri sebagai Gubernur Bali, ada elite politik di Jakarta yang tak yakin dengan kemenangannya. Alasannya ternyata sangat aneh. Dia mengatakan, pemimpin di Bali harus dari orang yang berkasta tinggi. Kalau kastanya rendah seperti Sudra tak akan bisa terpilih sebagai Gubernur Bali. Lantas dia menyebut nama gubernur-gubernur Bali sebelumnya, seperti Dewa Beratha, Ida Bagus Oka, Ida Bagus Mantra. Made Mangku Pastika dianggap berkasta Sudra.
Pernyataan ini membuktikan bahwa masalah kasta di Bali masih membingungkan banyak orang dan masalah kasta masih dikait-kaitkan dengan berbagai macam pekerjaan. Di Bali sendiri masalah kasta sudah tidak relevan lagi dibicarakan, dan boleh disebutkan sudah tidak lagi menjadi “kesalah-pahaman”. Mungkin hanya masih berlaku di pedesaan dan itu pun pada kalangan tua. Generasi muda Bali sudah lama meninggalkan kasta. Dengan demikian menjadi aneh terdengar justru di luar Bali orang masih membicarakan kasta dengan segala embel-embelnya seperti di masa lalu.
Ajaran Catur Warna dalam Hindu adalah menempatkan fungsi sosial seseorang dalam kehidupan di masyarakat. Orang boleh memilih fungsi apa saja sesuai dengan kemampuannya. Fungsi sosial ini bisa berubah-ubah. Pada awalnya semua akan lahir sebagai Sudra. Setelah memperoleh ilmu yang sesuai dengan minatnya, dia bisa meningkatkan diri sebagai pedagang, bekerja di pemerintahan, atau menjadi rohaniawan. Fungsi sosial ini tidak bisa diwariskan dan hanya melekat pada diri orang itu saja. Kalau orangtuanya Brahmana, anaknya bisa Sudra atau Kesatria atau Wesya. Begitu pula kalau orangtuanya Sudra, anaknya bisa saja Brahmana. Itulah ajaran Catur Warna dalam Hindu.
I Made Mangku Pastika pun bisa menjadi Gubernur Bali, yang kalau dikaitkan dengan kasta masa lalu, tergolong Sudra. Wakil Gubernur adalah Anak Agung Puspayoga, yang kalau dikaitkan dengan kasta masa lalu, tergolong Kesatria. Staf di kantor gubernuran banyak yang bernama depan Ida Bagus, yang jika dikaitkan dengan kasta masa lalu adalah Brahmana. Kalau saja kasta versi masa lalu masih dianggap eksis, tentu aneh Gubernur Bali orang Sudra, wakil dan stafnya orang Kesatria bahkan Brahmana. Ini tentu tak masuk logika, karena itu logikanya memang sudah tak benar.
Dari penjelasan diatas jelas sudah perbedaan pandangan mengenai kasta, warna, dan wangsa. Kita sebagai umat Hindu yang memiliki intelektual sudah menjadi kewajiban memahami konsep ini agar tidak terjadi pandangan yang salah yang dapat menyebabkan kesenjangan sosial antarumat Hindu lebih-lebih bisa menyebabkan konflik yang berkepanjangan. Namun, sekarang ini nampaknya ada usaha-usaha untuk semakin mempertajam kesenjangan umat Hindu khususnya di Bali. Sebagai contoh mengenai pembagian wewenang, hak dan kewajiban pendeta. Pedanda (pendeta yang berasal dari kalangan Kasta Brahmana) memiliki wewenang yang jauh lebih tinggi dari pada pemangku (pendeta yang berasal dari Kasta Sudra). Pendanda bisa menyelesaikan kelima upacara keagamaan yang ada dalam agama hindu di Bali yang lazim disebut sebagai Panca Yadnya.
Dalam Bhagawad Gita secara jelas disebutkan bahwa dasar persembahan kepada Tuhan adalah “keiklasan ” dan sama sekali tidak berdasarkan besar atau kecilnya persembahan dan siapa yang menyelesaikan upacara karena semua manusia sama di hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Apa yang dijelaskan di dalam ajaran suci Agama Hindu ini juga mempertegas bahwa tidak ada perbedaan di antara kita semua. Kita semua mahluk Tuhan dan ‪#‎tak_perlu_lagi_ada_pengkotak‬ -‪#‎kotakan_yang_berakibat_pada_perpecahan‬. Cintailah semua ciptaan Tuhan, semoga damai !
Terbuktilah kini, bahwa kasta masa lalu itu sudah terkubur. Yang tetap berlaku adalah ajaran Catur Warna, orang diberi kebebasan untuk menjadi Brahmana, Kesatria, Wesya maupun Sudra, asalkan mampu.
***Gambar di bawah hanya sebagai ilustrasi




Sabtu, 26 September 2015

Barong Landung by Dede Yasa Varmaraksha



#Barong_Landung, jika istilah ini dibaca oleh teman2 asal Bali yang mengetahui kisah umumnya, kebanyakan akan berpikir bahwa Barong Landung itu ada kaitannya dengan seorang raja yang mempunyai Abisheka Ratu sebagai Shri Aji Jayapangus, yang memerintah Bali pada Tahun 1177-1181M. Ya, memang begitulah pemahaman yang beredar secara umum. Tapi, apakah pemahaman itu 100% benar? Menarik untuk didalami.

Benarkah para pengusung Barong Landung itu benar2 hanya mengusung Sang Ratu Shri Aji Jayapangus, serta hanya sebagai bentuk penghormatan pada beliau?
Jika anggapannya hanya terkait Sang Ratu Shri Aji Jayapangus, kenapa di Desa A yang mengungsung Barong Landung disebut Ida Bhatara Gede "Anu", dan di Desa lain disebut Ida Bhatara Gede "yang lain"?

Apakah perwujudan Barong Landung itu merupakan penggambaran perwujudan Sang Ratu?
Jika anggapannya hanya terkait Sang Ratu Shri Aji Jayapangus, KENAPA di daerah lain selain di Bali juga ada perwujudan serupa?
Contoh palilng mudah adalah Ondel-Ondel di Betawi (ada kemungkinan perwujudan #Ondel-ondel yang semula, sebelum masuknya sistem kepercayaan baru tidaklah seperti yang kita lihat sekarang ini).
Contoh lain adalah #Badawang di Jawa Barat, dalam Bahasa Sunda istilah Badawang juga bersinonim dengan wujud perawakan seseorang yang "tinggi besar". Landung dalam Bahasa Bali juga berarti "tinggi besar".
Di Jawa Tengah disebut Barongan Buncis
Di Sumatera, di daerah Simalungun dan Karo juga ada yang disebut #Begu_Ganjang.

Atau, tidakkah Barong Landung itu sesungguhnya adalah bentuk penghormatan sekaligus sandi yang diberikan oleh Leluhur kita sebagai pendatang baru, untuk menghormati mereka para penduduk asli Tanah ini, kepada generasi selanjutnya agar mengenali dan menyadari tentang siapa #Leluhur_Tanah ini?

Dalam salah satu catatan berjudul "Sari Manik Tuluk Biyu", pada Lontar tua di Bali, ada dikisahkan sebagai berikut:
--------
......Shri Maharaja Purusada menurunkan dua orang yaitu: Sanghyang Jayengrat alias Shri Maharaja Sek Sukaranti dan Sanghyang Aji Nuk Wasir. Shri Nuk Wasir menurunkan Shri Maharaja Nuk Sukeranti yang menurunkan dua orang yaitu yang Sulung Shri Nuk Rwa adiknya Shri Nuk Wasininda. Shri Nuk Rwa sebagai raja di Jagat Goan Negeri China, rakyatnya semua Bangsa China. Dikisahkan Shri Nuk Wasir diikuti oleh para Dewa-Dewi dan Rsi meninggalkan negerinya guna menjelajah dunia, tibalah beliau di Banoa Bangsul (yang sekarang bernama Pulau Bali). Rombongan tersebut di Banoa Bangsul menyaksikan ada Parhyangan (yang sekarang disebut Pura) besar dan kecil yang senantiasa dipuja oleh masyarakat Banoa Bangsul, sehingga keadaan masyarakat menjadi tentram dan kerta-raharja.

Shri Maharaja Sek Sukaranti atau Shri Jayengrat berasal dari jagat Purusada hendak bersuka cita (anglila-cita) diiringi oleh Bala Mantrinya sebanyak 8000 orang. Shri Maharaja Purusada memerintahkan Patih Demang Copong untuk mengawal robongan tersebut, yang mana dalam perjalanan tiba-tiba Shri Jayengrat mangkat. Dengan mangkatnya Shri Jayengrat ke alam Dewata tiba-tiba muncul niat Patih Demang Copong untuk memperistri Dewi Manik Galih, namun niat tersebut ditolak oleh Sang Dewi. Akhirnya Sang Dewi mesatya gni (menceburkan diri ke kobaran api sebagai wujud kesetiaannya terhadap suami), badan dan tulang belulangnya hangus terbakar menjadi abu. Penghanyutan abu jenazah Dewi Manik Galih inilah sebagai awal kisah terbentuknya Banoa Bangsul yang pertama menurut kisah lontar Sari Manik Tuluk Biyu tersebut.

Rombongan Patih Demang Copong menghanyutkan abu Dewi Manik Galih ke dalam samudra menggunakan kapal (Jong), kapal rombongan tersebut tiba-tiba terdampar. Air lautnya berbuih kemudian mengental menjadi lumpur, tempat dimana kapal terdampar itu sebagai cikal-bakal tanah Bali pertama kali sehingga dinamakan Gelgel Jagat Kapal.....
--------

Dari membaca kutipan lontar di atas, dapat kita lihat kisah ada serombongan pengelana yang sedang mengarah ke Pulau Bali. Mereka menyaksikan ada Parhyangan besar dan kecil yang senantiasa dipuja oleh masyarakat Bali. Dengan kata lain, ketika rombongan tersebut melihat keadaan Pulau Bali ini, sudah ada masyarakat dan mempunyai sistem kepercayaan sendiri.

Ketika dikisahkan ada kejadian kapal-kapal rombongan tersebut tiba-tiba terdampar, air laut berbuih kemudian mengental menjadi lumpur, kita bisa menghubungkan kejadian ini dengan kisah banjir besar yang pernah melanda Bhumi. Ada kemungkinan, kejadian kedatangan rombongan tersebut ketika berakhirnya banjir besar tersebut. Dengan demikian, penduduk Bali yang mereka lihat itu berada di daerah dataran yang tinggi, dimana banjir besar itu tidak sampai menenggelamkan dataran tinggi tersebut.

Lalu siapakah masyarakat Bali yang dilihat oleh rombongan tersebut yang mempunyai Parhyangan besar dan kecil itu?
Lontar Sari Manik Tuluk Biyu Batur ini pun mencatatnya:
--------
....ketika Bhatara Çiwa menciptakan manusia di Bali Manusia ada lima jenis yang merupakan pengikut Bhatara Çiwa. Manusia yang berasal dari inti (les) pohon nangka yang dinamakan I Ketewel. Manusia yang tercipta dari pangurip-urip gunung, dan mereka tersebar di gunung-gunung :
1. Wong Jugul Demang :
Perawakannya tinggi dan besar, bisa berubah wujud, warnanya hitam, matanya bundar, wajahnya panjang seperti kera.
*(Dalam sebuah kliping surat kabar zaman Belanda, dilaporkan bahwa Wong Jugul Demang masih bertransaksi rempah-rempah dengan Belanda di Tulamben, Karangasem, pantai Timur Laut Gunung Agung Bali.)

2. Wong Demang :
Perawakannya tinggi dan besar, kulitnya berwarna merah, rambutnya merah, bibirnya lebar, berwajah seperti kera, bermata bundar melotot/mendelik.

3. Wong Sekama-kama :
Tidak bisa disebutkan dimana menetapnya, karena banyaknya tak terhitung jumlahnya dan ada di segala tempat.Wong Tanbya :
Perawakannya tinggi dan besar, bermata biru, berwajah lebar.

4. Wong Selatra :
Perawakannya sesuai kehendaknya, mengetahui segala rencana.

5. Wong Gamang :
Semua jenis makhluk halus.
--------

Dari sumber2 catatan tua ini, kita dapat mencapai sebuah pemahaman bahwa ada 5 ras selain ras manusia seperti kita pada umumnya yang sudah hidup bermasyarakat dan mempunyai sistem kepercayaan sendiri, jauh sebelum leluhur-leluhur kita mendatangi tanah ini.

Melihat kemiripan dan kemisteriusan ras-ras selain manusia seperti kita, selain Barong Landung/Ondel-Ondel/Badawang/Barongan Buncis/Begu Ganjang, di luar sana juga ada yang disebut Yeti dan juga Big Foot. Dari berbagai penelusuran, jika dari kisah mereka yang pernah bertemu langsung dengan mereka akan mengatakan bahwa ras-ras itu sangat bijaksana, mereka memberikan tuntunan dan menyadarkan adanya kesalahan cara pandang manusia. Tapi tentunya akan bertolak belakang dengan anggapan2 kosong yang muncul dari pernyataan para politikus berkedok agama. Sebab, bagaimana pun, penduduk asli adalah target konversi, jika tidak bisa maka mereka harus dijadikan musuh. Pola ini bukan pola baru, pola ini sudah terjadi sejak lebih dari ribuan tahun yang lalu. Pola yang bukan hanya membuat banyak orang lupa tentang siapa sesungguhnya leluhur mereka sendiri, tapi lebih parah dari itu, pola yang membuat terlalu banyak orang yang tidak tau bahkan memusuhi Leluhur Tanah ini.



Jumat, 04 September 2015

Apa kata buku, apa katamu...



"Lwih piteket ring lontar
mwah maring cakepan sami,
Tan puput mamarcaya,
tan ngetelebang ring ati.
Reh bisa ortane sami,
kari madewek rwa pamuput.
Bisa linyok lan pesaja,
sada lia, kasurat gawen sang lobha.."

Begitu indah nasehat dlm lontar dan segala bacaan.
Namun bukanlah orang yg cerdas jika langsung mempercayainya.
Oleh karena segala nasehat itu bisa menjadi benar/salah, karena masih berkulit.
Terlebih lagi karena jaman sudah edan, hingga banyak tulisan yg dbuat oleh orang edan..

Minggu, 21 Desember 2014

GOD-LORD-ARCANAM

 GOD – TUHAN - NIRGUNA BRAHMAN
Tuhan yang tak terpikirkan, yang tak berwujud dan yang tak bergerak. TUHAN Yang dimiliki oleh semua mahluk hidup (Sarwa Dumadi).
ANG-UNG-MANG, Agni-Udhaka-Marutha (AUM-OM)
GOD = Generator, Operator, Destructor

Om Parameswara Ya Vedmahe
Paratatwa Ya Dhimahi
Tanno Maha Brahma Prachodayat
Engkaulah yang Maha Pencipta, yang Maha Kuasa pemilik dari semua Hidup dan Kehidupan di Dunia.
Semua berawal dari MU, Kelak pasti kembali Pada MU
Om Ang Jyotir Ya Namah
Rendahkan kepala dan sujud dihadapan TUHAN Penciptamu.

Om Sri Narayanam Ya Vedmahe
Vasudewa Ya dhimahi
Tanno Maha Vishnu Prachodayat
Engakaulah yang Maha Pengasih, Maha Pelindung yang mengayomi semua mahluk di dunia, dan hanya Engkau yang bisa melindungi dunia ini dari kehancuran.
Om Ung Jyotir Ya Namah
Rendahkan kepala dan sujud dihadapan TUHAN yang selalu mengasihimu.

Om Panca Vaktram Ya Vedmahe
Mahadeva Ya Dhimahi
Tanno Shiva Rudra Prachodayat
Engkaulah yang Maha Sempurna, yang mengembalikan semuanya pada asal semula, yang mampu menyempurnakan semua ciptaanMU.
Om Mang Jyotir Ya Namah.
Rendahkan kepala dan sujud dihadapan TUHAN yang Maha Sempurna.

Hanya pada TUHAN kita bersujud sebagai pengakuan dari pemilik hidup dan kehidupan ini. Hanya pada TUHAN kita berserah diri, Hidup dan Mati ada ditangan TUHAN. Bersujudlah dari hatimu yang terdalam dihadapan TUHAN.
Sujud adalah bahasa tubuh yang alami, adalah wujud naluri manusia yang menyerahkan hidup dan matinya. Bahasa tubuh kadang lebih alami dan jujur mengungkapkan perasaan dan suasana hati. Orang akan menengadah dan mengangkat tangannya keatas untuk merayakan sebuah kemenangan, membusungkan dada tatkala menunjukkan keberaniannya dan salah tingkah tatkala berbohong. Orang yang bersalah dan orang yang menyerahkan hidup matinya tak khan berani mendongak di hadapaNYA.
Sembahyang pada TUHAN dengan sujud adalah pribadi sifatnya, tanpa upacara tanpa perantara dan tak terikat desa kala patra. Yang ada hanya AKU dan TUHAN.




LORD = SAGUNA BRAHMAN, Manifestasi TUHAN yang memiliki fungsiNYA masing-masing.
Dewa-Dewi, Bhatara-Bhatari
Menyembah agar sifat-sifat Beliau ada dalam diri, Menyembah Beliau untuk memohon restu atau Diksa. Memohon restu untuk sesuatu yang akan kita lakukan dan menerima "Diksha" setelah memberi (daksina).Disini kita diibaratkan dengan Si Buta yang tak tahu apa-apa dan Beliau adalah Si Lumpuh yang lebih Tahu.





ARCANAM = Simbul – Simbul TUHAN
Arcanam adalah daya upaya manusia dalam mewujudkan rasa cinta kasihnya kepada sesuatu yang tidak di kenal, yang tidak terlihat dan yang tidak dimengerti yaitu TUHAN. arcanam (Pelinggih, Pratima) bukanlah TUHAN, itu semua adalah alat atau saran manusia untuk memuja dan memberikan Baktinya pada yang dipujanya. Puja-Memuja=memberi, menghaturkan. seorang Bakta yang berperan sebagai si buta yang melayani (Sevana) pada si lumpuh (arcanam).


TAK SEMUANYA YANG SESAT MENURUT ORANG MULIA DI KLAIM BHAIRAWA TANTRA

TAK SEMUANYA YANG SESAT MENURUT ORANG MULIA DI KLAIM BHAIRAWA TANTRA

Ritual PANCAMAKARA yang bersumber dari kitab Kali Mantra dan kitab Mahanirvana Tantra jelas disebutkan sebagai berikut :
Kali Mantra:
Sadayam bhaamsaca miinam ca mudraa naithuna se vaca, Ete Pamca Makaaraa syu Mokshadaah Kaluyuge
"Mabuk, memakan daging, memakan ikan,melakukan sexualitas dan meditasi, akan menuntun kepada Moksha pada jaman Kaliyuga ini."

Maha Nirvana Tantra :
“Pautvaa pitvaa punah pitvaa yaavat patati bhuutale, Punarutyaaya dyai potvaa punarjanma ga vidhate.”
“Minum, teruslah minum hingga kamu terjerembab ke tanah. Lantas berdirilah kembali dan minum lagi hingga sesudah itu kamu akan terbebas dari punarjanma (kelahiran kembali) dan mencapai kesempurnaan. (Moksha).”

Wujud Wuda Wani Nora Wedi mring Wadi....Kalau Diartikan sembarangan bisa diartikan Pornografi..Ngono yo ngono tapi ojo koyo mankono......Sumanto,Maling Cilacap..nanti Sex Bebas dan Pesugihan Di Klaim Semua Bhairava Tantra...BUBUBAR Zamane...yang melakukan saja tak menyebut itu dan Tak mengenal itu semua....
Saya orang Pinggiran,kaum Marginal dan nggak ingin semua yang Tak baik adalah Peradaban Nenek moyang BHAIRAWA KALACHAKRA di Singosari,Hindu dan Sanata Dharma...buanyak dari yang lain Agama,aliaran yang di anggap menyimpang Tapi ya jangan itu semua Bhairawa Tantra