Jumat, 01 Desember 2017
SURYA-CANDRA-PRANATA MANGSA
Sabtu, 19 Agustus 2017
Upacara dan Upakara
pacara dan Upakara kalo di ibaratkan seperti menyebrangi sungai.
upacara dan upakara adalah sarana dan mode transportasi yang kita gunakan untuk menyebrang (Perahu, boat, sampan, dll) dengan tujuan kita sampai ke seberang.
Banyak orang lebih fokus ke saran penyebrangannya dan lupa akan tujuan untuk menyebrang. bahkan ada yang lupa ikut naik dan menumpang sarana penyebrangan...
Apakah sarana upacara dan upakara tidak penting? upacara dan upakara itu penting untuk mengantarkan kita ke tujuan, tak khan penting jika kita bisa menyebrang tanpa sarana alias berenang, tergantung kemampuan orang tersebut diatas. jadi upacara dan upakara adalah relatif. tak bisa disamakan atau diseragamkan.
Yang terpenting adalah tujuannya yaitu sampai ke seberang.
Sahadja
Senin, 03 Oktober 2016
Kapitayan agama asli nuswantara
Wahai saudaraku. Jauh sebelum era perhitungan Masehi dimulai, khususnya di tanah Jawa sudah ada satu keyakinan pada Ke-Esaan Tuhan. Para leluhur kita dulu SUDAH SADAR DIRI, jauh sebelum ajaran agama baru yang di import dari Timur Tengah, India dan China hadir di Nusantara. Para beliau merasa bahwa KEYAKINAN itu adalah untuk DIPERCAYA dan DILAKUKAN ajarannya, bukannya menjadi bahan perdebatan atau malah dicarikan eksistensinya lalu menjadi sumber pertikaian dan peperangan. Oleh sebab itu, nenek moyang orang Jawa sudah membekali dirinya dengan pengetahuan tentang Dzat (kenyataan) Tertinggi serta tentang bagaimana bisa menemukan-Nya.
Ya. Orang Jawa di masa lalu telah percaya akan keberadaan suatu entitas yang tak kasat mata namun memiliki kekuatan Adikodrati yang menyebabkan kebaikan dan keburukan dalam kehidupan dunia. Mereka tidak pernah menyembah selain kepada Tuhan Yang Maha Agung. Meskipun ia adalah seorang Dewa atau Bhatara sekalipun, semua itu tetaplah mereka anggap sebagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan dan tentunya tidak layak untuk disembah sebagaimana Dzat Yang Maha Kuasa sendiri. Tuhan-lah yang orang Jawa yakini dan mereka sembah, yang telah mereka pahami sebagaimana yang disebut kemudian dengan istilah Sang Hyang Taya.
Memang pada masa itu orang Jawa belum memiliki Kitab Suci, tetapi mereka telah memiliki bahasa sandi yang dilambangkan dan disiratkan dalam semua sendi kehidupannya dan mempercayai ajaran-ajaran itu tertuang di dalamnya tanpa mengalami perubahan sedikitpun karena memiliki pakem (aturan yang dijaga ketat). Kesemuanya merupakan ajaran yang tersirat untuk membentuk laku utama yaitu Tata Krama (Aturan Hidup Yang Luhur) dan untuk menjadikan orang Jawa sebagai sosok yang hanjawani (memiliki akhlak terpuji).
Karena itulah, masyarakat Jawa yang cair (ramah dan santun), juga menerima dengan baik ajaran agama yang dibawa oleh kaum migran (Hindu, Buddha, Islam, Nasrani dan lainnya) selama mempunyai konteks yang sama dengan ujung MONOTHEISME (Tuhan yang satu). Sebab inilah banyak agama yang dibawa kaum migran lalu memilih basis dakwahnya dari tanah Jawa.
Sungguh, leluhur Jawa dulu selalu melihat bahwa agama itu sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan “ibadah”). Ajaran mereka biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat dan menekankan pada konsep “keseimbangan”. Mereka hampir tidak pernah mengadakan kegiatan perluasan ajaran, tetapi melakukan pembinaan secara rutin. Simbol-simbol “laku” berupa perangkat adat asli Jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantera, penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya itu menampakan kewingitan (wibawa magis), bukan inti ajarannya. Namun memang tidak bisa dipungkiri telah banyak orang (termasuk penghayat Kejawen sendiri) yang dengan mudah memanfaatkan ajaran leluhur itu dengan praktik klenik dan perdukunan, padahal sikap itu tidak pernah ada dalam ajaran para leluhur dulu.

Kemudian jauh sebelum agama Islam masuk, di Nusantara terdapat agama kuno yang disebut Kapitayan – yang secara keliru dipandang sejarawan Belanda sebagai Animisme dan Dinamisme. Agama ini adalah perkembangan dari ajaran dan prinsip keyakinan kepada Sang Hyang Taya sebelumnya. Dimana Kapitayan ini adalah suatu ajaran yang memuja sesembahan utama yang disebut Sang Hyang Taya, yang bermakna Hampa atau Kosong atau Suwung atau Awang-uwung. Dia-lah Dzat Yang Maha Kuasa dan Pencipta segala sesuatu.
Perlu diketahui bahwa konsep Hyang adalah asli dari sistem kepercayaan masyarakat Nusantara, khususnya di tanah Jawa, bukan konsep yang berasal dari ajaran Hindu atau Buddha dari India. Kata Hyang dikenal dalam bahasa Melayu, Kawi, Jawa, Sunda dan Bali sebagai suatu keberadaan kekuatan Adikodrati yang supranatural. Keberadaan spiritual ini bersifat Ilahiah yang mencipta, mengatur dan mempengaruhi segala sesuatu yang ada di alam jagat raya. Sesuatu Yang Absolut yang tidak bisa dipikir dan dibayang-bayangkan (Niskala). Tidak bisa didekati dengan panca indera. Orang Jawa lalu mendefinisikan Sang Hyang Taya dalam satu kalimat “Tan kena kinaya ngapa” alias tidak bisa diapa-apakan keberadaan-Nya. Untuk itu, agar bisa disembah, Sang Hyang Taya mempribadi dalam nama dan sifat yang disebut TU atau TO, yang bermakna “daya gaib” yang bersifat Adikodrati.
Perlu diketahui juga bahwa TU atau TO adalah tunggal dalam Dzat, Satu Pribadi. TU lazim disebut dengan nama Sang Hyang Tunggal. Dia memiliki dua sifat, yaitu Kebaikan dan Kejahatan. TU yang bersifat Kebaikan disebut TU-han disebut dengan nama Sang Hyang Wenang. TU yang bersifat Kejahatan disebut dengan nama Sang Hyang Manikmaya. Demikianlah, Sang Hyang Wenang dan Sang Hyang Manikmaya pada hakikatnya adalah sifat saja dari Sang Hyang Tunggal. Karena itu baik Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Wenang dan Sang Hyang Manikmaya bersifat gaib, tidak dapat didekati dengan panca indera dan akal pikiran. Hanya diketahui sifat-Nya saja.
Lalu, oleh karena Sang Hyang Tunggal dengan dua sifat itu bersifat gaib, maka untuk memuja-Nya dibutuhkan sarana-sarana yang bisa didekati panca indera dan alam pikiran manusia. Itu sebabnya, di dalam ajaran Kapitayan dikenal keyakinan yang menyatakan bahwa kekuatan gaib dari Pribadi Tunggal Sang Hyang Taya yang disebut TU atau TO itu ‘tersembunyi’ di dalam segala sesuatu yang memiliki nama TU atau TO. Para pengikut ajaran Kapitayan meyakini adanya kekuatan gaib pada wa-TU, TU-gu, TU-lang, TU-nggul, TU-ak, TU-k, TU-ban, TU-mbak, TU-nggak, TU-lup, TU-rumbuhan, un-TU, pin-TU, TU-tud, TO-peng, TO-san, TO-pong, TO-parem, TO-wok, TO-ya. Dalam melakukan bhakti memuja Sang Hyang Taya, orang menyediakan sesaji berupa TU-mpeng, TU-mbal, TU-mbu, TU-kung, TU-d kepada Sang Hyang Taya melalui sesuatu yang diyakini memiliki kekuatan gaib.
Kalau dalam Islam ada tingkatan-tingkatan ibadah seperti Syari’at, Thariqah, Hakikat dan Makrifat, maka di Kapitayan praktek di atas adalah proses ibadah tingkatan syari’at yang dilakukan oleh masyarakat awam kepada Sang Hyang Tunggal. Untuk para ‘ulama’-ulama’ sufi’ nya Kapitayan, mereka menyembah langsung kepada Sang Hyang Taya dengan gerakan-gerakan tertentu, pertama melakukan Tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap Tutuk(lubang) sambil mengangkat kedua tangan dengan maksud “menghadirkan’ Sang Hyang Taya di dalam Tutu-d (hati). Setelah merasa sudah bersemayam di hati, langkah selanjutnya adalah tangan diturunkan dan didekapkan di dada yang disebut swa-dingkep (memegang ke-aku-an diri). Setelah dirasa cukup proses Tu-lajeg ini, kemudian dilanjutkan dengan Tu-ngkul (membungkuk menghadap ke bawah), lalu dilanjutkan lagi dengan Tu-lumpak (duduk bersimpuh dengan kedua tumit diduduki), dilanjutkan proses terakhir yaitu To-ndhem (bersujud). Sedangkan tempat ibadahnya disebut Sanggar, yaitu bangunan persegi empat beratap tumpak dengan lubang di dinding sebagai lambang kehampaan. Kalau Anda kesulitan membayangkan tempatnya, maka modelnya tidak jauh berbeda dengan langgar/musholla di desa-desa pada umumnya.

ntuk itu, seorang hamba pemuja Sang Hyang Taya yang dianggap shaleh akan dikaruniai kekuatan gaib yang bersifat positif (TU-ah) dan yang bersifat negatif (TU-lah). Mereka yang sudah dikaruniai TU-ah dan TU-lah itulah yang dianggap berhak untuk menjadi pemimpin masyarakat. Mereka itulah yang disebut ra-TU atau dha-TU (cikal bakal gelar Ratu dan Datu bagi para pemimpin kerajaan Nusantara).
Mereka yang sudah dikaruniai TU-ah dan TU-lah, gerak-gerik kehidupannya akan ditandai oleh PI, yakni kekuatan rahasia Ilahi Sang Hyang Taya yang tersembunyi. Itu sebabnya, ra-TU atau dha-TU, menyebut diri dengan kata ganti diri: PI-nakahulun. Jika berbicara disebut PI-dato. Jika mendengar disebut PI-harsa. Jika mengajar pengetahuan disebut PI-wulang. Jika memberi petuah disebut PI-tutur. Jika memberi petunjuk disebut PI-tuduh. Jika menghukum disebut PI-dana. Jika memberi keteguhan disebut PI-andel. Jika menyediakan sesaji untuk arwah leluhur disebut PI-tapuja lazimnya berupa PI-nda (kue tepung), PI-nang, PI-tik, PI-ndodakakriya (nasi dan air), dan PI-sang. Jika memancarkan kekuatan disebut PI-deksa. Jika mereka meninggal dunia disebut PI-tara. Sehingga seorang ra-TU atau dha-TU, adalah pengejawantahan kekuatan gaib Sang Hyang Taya. Seorang ra-TU atau dha-TU adalah citra Pribadi Sang Hyang Tunggal.
Dengan prasyarat-prasyarat sebagaimana terurai di atas, kedudukan ra-TU dan dha-TU tidak bersifat kepewarisan mutlak. Sebab seorang ra-TU atau dha-Tu dituntut keharusan secara fundamental untuk memiliki TU-ah dan TU-lah, tidak bisa diwariskan secara otomatis pada anak keturunannya. Seorang ra-TU harus berjuang keras menunjukkan keunggulan TU-ah dan TU-lah, dengan mula-mula menjadi penguasa wilayah kecil yang disebutWisaya. Penguasa Wisaya diberi sebutan Raka. Seorang Raka yang mampu menundukkan kekuasaan raka-raka yang lain, maka ia akan menduduki jabatan ra-TU. Dengan demikian, ra-TU adalah manusia yang benar-benar telah teruji kemampuannya, baik kemampuan memimpin dan mengatur strategi maupun kemampuan Tu-ah dan TU-lah yang dimilikinya.
Tapi kemudian, pengaruh Kapitayan dalam sistem kekuasaan Jawa dengan konsep ra-TU dan dha-TU, mengalami perubahan ketika pengaruh Hinduisme terutama ajaran Bhagavatisme yang dianut oleh para pemuja Vishnu masuk ke Nusantara. Ajaran Bhagavatisme dianggap lebih mudah dalam pelaksanaan ditambah sistem kepewarisan tahta yang bersifat kewangsaan, telah memberi motivasi bagi raja-raja Nusantara yang awal untuk menganut Vaishnava. Hanya saja, sekalipun pengaruh sistem kekuasaan Hindu dengan konsep rajawi dianut oleh penguasa-penguasa di Nusantara, namun sistem lama yang bersumber dari ajaran Kapitayan tidak dihilangkan. Keberadaan seorang raja atau maharaja misalnya, selalu ditandai oleh kedudukan ganda sebagai ra-TU atau dha-TU. Sehingga seorang raja, dipastikan memiliki tempat khusus yang disebut ‘keraton’ atau ‘kedhaton’ di samping bangsal dan puri. Selain itu, seorang raja selalu ditandai oleh kepemilikan atas benda-benda yang memiliki kekuatan gaib seperti wa-TU, TU-nggul, TU-mbak, TU-lang, TO-san, TO-pong, TO-parem, TO-wok, dll. Karena memang dulu sistem kekuasaan di Nusantara mensyaratkan keberadaan ra-TU atau dha-TU dengan benda-benda yang ber-TU-ah.
Namun zaman pun berganti dan keadaan dunia juga berubah sangat drastis. Dan ironisnya agama Kapitayan sebagai tuan rumah pernah di tekan hebat oleh para tamunya. Contohnya ketika zaman kerajaan Kadhiri, penganut agama Hindu yang mampu merangkul penguasa saat itu menekan golongan Kapitayan sehingga mereka harus naik ke gunung Klothok dan gunung Wilis (artefak peninggalan Kapitayan banyak tersebar disana, sebagian dibawa kaum penjajah ke Leiden dan berkembang menjadi aliran kepercayaan Hasoko Jowo yang justru bermarkas di Leiden-Belanda sana). Lalu di zaman kerajaan Tumapel/Singosari kejadiannya pun sama, penganut agama Hindu-Buddha menekan hebat kelompok ini hingga mengungsi ke pesisir selatan tanah Jawa. Selanjutnya di zaman kerajaan Demak, penganur agama Islam yang melakukan penetrasi bahkan hingga sekarang ini. Dan yang terakhir di zaman Kolonoial, penganut agama Nasrani mendapat tempat elite di sosial kemasyarakatan dan lainnya.
Sungguh, jika Anda mau bertanya seberapa ramah dan besarnya pengorbanan suatu peradaban menerima perobahan? Itu hanya milik peradaban tanah Jawa di Nusantara. Andai saja mereka bersikukuh pada keyakinannya dan mengabaikan nilai universal yang dipahaminya, saya amat yakin bahwa TIDAK AKAN ADA AJARAN AGAMA IMPORT BEGITU MUDAHNYA MASUK DI TANAH JAWA, bahkan tanpa pertumpahan darah. Justru yang belum yakin itulah yang bertanya dan kearifan tanah ini menjawab dengan bahasa semesta. Ketika agama Buddha dipahami dari sudut pandang Jawa, kita memiliki Borobudur yang dikagumi seluruh dunia dan dijadikan tempat pendidikan kelas dunia di masanya. Hal yang sama juga terjadi pada agama Hindu dengan candi Prambanan dan masyarakat Balinya. Kemudian agama Islam bahkan dengan pendekatan kebudayaannya telah menjadikan Walisongo sebagai ulama kelas wahid di Asia Tenggara dan lainnya, dan kini timbullah dengan apa yang dikenal dunia kini dengan sebutan Islam Nusantara.


Tapi, ketika semua dijalankan dengan kaku dan harus seperti aslinya dimana agama itu diturunkan, maka terjadilah benturan yang nyata. Dan ketika ada orang yang menganggap adalah sempurna bila agama dijalankan sejurus dengan adat dimana ia diturunkan. Maka JAWABANNYA ADALAH SALAH BESAR, karena tata nilai agama itu bersifat universal, sedangkan adat dianugerahkan pada suatu komunitas dan kekhususan lokasi. Sehingga jangan mimpi untuk bisa hidup sempurna jika memaksakan sesuatu – terutama keyakinan – tanpa menyatupadukan dengan kultur dan karakter bangsa setempat. Sebab, getaran semestanya (nyata dan gaib) akan melawan dengan hebat. Akan ada hukuman bagi siapa saja yang keliru dan bersikap tidak adil dan tidak bijaksana kepada sesama. Dan Tuhan itu adalah Sang Maha Kuasa, Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, lantas mengapa masih saja ada orang yang berani mengkerdilkan keperkasaan-Nya itu dengan mengatakan “Tuhan hanya paham bahasa atau cara kami saja”?. Sungguh aneh.
“Akan tiba waktunya di tanah Nusantara ini bangkit kembali ajaran kuno yang pernah berjaya di masa silam. Bukan hanya di tanah Jawa, tetapi membawa pengaruh bagi seluruh dunia. Ajaran itu sangat indah karena di dalamnya terdapat aturan hidup yang menuhankan Tuhan Yang Satu, mengabdi kepada Dzat Yang Maha Mulia, dan tunduk hanya kepada Dia Yang Maha Kuasa. Sebagaimana yang telah dikabarkan di dalam kitab suci semua agama besar dunia”
Wahai saudaraku. Semoga kita tetap bisa menjadi pribadi yang tidak berpikiran picik atau fanatik yang buta, karena itu hanya akan menyusahkan. Bahkan jika terus dipertahankan, maka kehidupan pun akan semakin kacau, karena kepicikan dan fanatik itu sendiri adalah sumber dari kebodohan. Bersikaplah bijaksana disertai hati yang lapang, dengan begitu tujuan hidup di dunia akan tercapai. (oediku.wordpress.com)
Senin, 05 September 2016
JATI DIRI
*** Sampurasun
Di alam semesta ini segalanya memiliki JATI DIRI yg sesuai dgn ruang kehidupan masing-masing sesuai dgn kehendak Hyang Maha Kuasa.
Jati diri bangsa selalu tumbuh dgn segala perwatak dan cara-cirinya masing-masing, tidak pernah tertukar... maka siapapun yg menolak cara-ciri tersebut adalah sosok KAFIR (ingkar) yg sebenarnya.
Bangsa Cina, Arab, India, Thailand, Korea, Jepang, Inggris, Rusia, dll... mereka memiliki BAHASA - AKSARA dan PERADABAN masing-masing yg hidup lestari hingga hari ini... dan itu menjadi CIRI KEBANGSAAN mereka yg mutlak.
Bangsa-bangsa itu telah membawa jati diri mereka ke panggung dunia melalui berbagai media, hingga terjadi komunikasi antar kebangsaan... Melalui jati diri itu bangsa-bangsa lain dapat saling mengenal, saling meghormati, saling menghargai.
Sebaliknya.............
Bangsa Indonesia Raya sebagi pewaris kebudayaan bangsa Nusantara adalah ANAK HARIMAU yg dibesarkan dalam kerangkeng... sebab KITA adalah bangsa yg paling ditakuti oleh dunia... maka dari itu KITA hanya boleh hidup di dalam ruang sempit kumuh dan kotor.... boleh jadi anak harimau ini sedang direkayasa menjadi onta.
Senyatanya perwatakan jati diri ANAK HARIMAU itu sedang dibunuh dan dimatikan secara perlahan, karena jika kelak tumbuh dewasa dan menyadari jati dirinya dapat membahayakan bangsa-bangsa dunia... itu sebabnya siloka legenda "Prabhu Siliwangi" dibungkam disesatkan dan dikerdilkan.
HANYA HARIMAU BETINA YANG AKAN MELAHIRKAN ANAK HARIMAU... maka siapapun yg mengingkari jati dirinya sendiri adalah perbuatan biadab yg memiliki kecenderungan menjadi VIRUS perusak data kebangsaan.
MARI BANGKIT... MERDEKA DAN BERDAULAT DI HUTAN BELANTARA WARISAN PARA LELUHUR BANGSA KITA SENDIRI.
....semoga tercerahkan...
Tabe Pun
_/|\_
Rahayu Sagung Dumadi
Sabtu, 03 September 2016
PESAN DIRGAHAYU RI ke-71
PESAN DIRGAHAYU RI ke-71
Jangan heran bila penyebaran agama-agama semitic yang berakar pada budaya spiritual Sumerian hingga sampai ke Mesir maupun India melalui jalur Persia (Iran) dan Zhangzhung / Bactrian (Afghanistan) yg menjadi salah satu batu penjuru spiritual Timur.
Tiada lain adalah yg disebut bangsa Arya.
Maka jangan terkejut bila kita menemukan kesamaan tema antara Sufism yg berasal dari upaya resistansi bangsa Persia terhadap invasi Arabia, hingga spiritualitas Zhangzhung (Dzogchen), Nepal (Buddhism), Tibetan (Bon), dan Kashmir Shivaism (Northern India); dengan apa yang muncul pada Judaism di Yudea-Israel yg akarnya adalah budaya Canaan.
Dan anda perhatikan....
Bahwa bangsa yang EXIST adalah bangsa yang mampu mempertahankan budaya / tradisi kunonya.
Mesir hancur. Sumeria sudah lenyap dari peta. Babylon, Bactrian (Afghanistan), dsb.
Yang masih exist bangsanya hingga kini adalah yang masih sanggup mempertahankan budaya leluhur bangsanya, yaitu bangsa2 ini :
1. Israel
2. India
3. Nepal
4. Bhutan
5. Thailand
6. Tibetan (walau sekarang dalam posisi terancam)
Sementara negara2 yg pernah dijajah bangsa asing tetapi mampu mempertahankan budayanya, ternyata tetap eksis hingga sekarang (China, Jepang, Korea, Russia, dsb).
Sudah jelas bahwa eksploitasi dan penjajahan bangsa-bangsa pintunya adalah melalui agama. Kadang bukan 1 agama tetapi melalui beberapa agama dibenturkan sehingga terpecah belah maka lemah (adu domba; divide et impera / divide and conquer).
Di masa kini, lihatlah nasib bangsa-bangsa ini :
- Mesir
- Afghanistan (beserta semua "-tan" "-tan" lainnya di sekitar situ)
- Iran
- Iraq
- Syria
- negeri2 Afrika yang dulunya makmur (misal : Ethiopia, Libya, dsb).
- negara-negara Latin di Amerika Selatan (marak kemiskinan, mafia, dsb), bahkan sekarang Venezuela krisis pangan (80% tingkat pengangguran). Dan di Eropa sendiri adalah the poor-European spt Portugal, Spanyol,Yunani (bangkrut).
- Di Asia : Myanmar, Vietnam, Laos, Kamboja, Mongolia
, dsb....
Bagaimana??? Apakah tidak dapat dikatakan sebagai tinggal puing-puing??
Bahkan yang dinamakan Eropa ....selalu menjadi sentral kemunculan Perang Dunia. Apakah anda tidak bisa secara jelas melihat root-causalnya??? Pola (pattern) yang selalu sama walau terjadi pada ruang-waktu yang berbeda-beda???
Padahal, kekuatan suatu bangsa ditentukan oleh kohesi masyarakatnya. Tapi kohesi masyarakat akan hancur bila membudayakan DUSTA, sekalipun dibungkus dengan dalih-dalil (demi-demi) ini itu. Dusta yang memanipulasi sejarah suatu bangsa. Dusta yang menghancurkan identitas suatu bangsa. Hingga parahnya kohesi dalam keluarga pun hancur menghasilkan generasi muda yang tidak tentu arah dan dungu.
Itulah mengapa 10 Perintah Allah yang diturunkan oleh Nabi Musa (dan diterapkan bangsa2 Timur lainnya walau dengan nama berbeda. Misal di Buddhism disebut Panca Sila Buddhist atau Jalan Mulia Beruas Delapan, Trihitakarana pada Hindu) merupakan suatu hal yang wajib untuk diamalkan bila kita ingin menjadi bangsa yang eksis dan langgeng. Hukum dasar ini dibagi secara awam menjadi 2 bagian : Bagian sikap terhadap Tuhan / Allah (vertikal) dan Bagian sikap terhadap sesamamu manusia (horizontal).
Tetapi menurut saya itu adalah merupakan 3 bagian , yaitu :
1. Aspek batin (hati dan pikiran)
2. Aspek energi (ucapan)
3. Aspek perbuatan (perbuatan)
Aspek ucapan inilah yang terpenting sebagai pondasi hubungan antar sesama manusia. Karena hubungan sesama manusia dimulai dari ucapan. Sementara batin adalah letaknya bersifat sangat pribadi.
Bila ucapan saja sudah korup (tidak utuh / cacat / berkurang atau ditambahi / palsu) maka segalanya yg bermanifestasi dalam kehidupan sehari-hari akan rusak.
Jadi menjaga ucapan adalah SANGAT VITAL.
Sayangnya, hal itu tidak mungkin bisa dilaksanakan apabila dari sumbernya yaitu batinnya sendiri sudah korup semenjak produksi awal dalam bentuk pikirannya. Pikiran-pikiran yang tidak sesuai dengan Firman (dalam bahasa aslinya = Logos ( λόγος ) , Logic = Nalar!).
Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ Λόγος, καὶ ὁ Λόγος ἦν πρὸς τὸν Θεόν, καὶ Θεὸς ἦν ὁ Λόγος.
"In the beginning was the Logos, and the Logos was with God, and the Logos was God."
Perhatikan saja betapa maraknya perceraian di masa kini? Betapa sulitnya dalam pasangan hidup saja antara suami dan istri sangat sulit untuk menumbuhkan rasa percaya (trust) satu sama lain?
Maka kepindahan hati adalah perkara waktu belaka.
Karena satu sama lain saling berpolitik yg saling sangat melelahkan.
Akhirnya, rumah bukan lagi tempat beristirahat yg teduh.
Itulah akibat dibudidayakannya dusta.
Bahkan lebih keji lagi adalah dusta yang melarang saling percaya (trust) antara suami-istri. "Jangan percaya pada orang, percaya hanya pada Tuhan", katanya. Padahal, yg dimaksud "tuhan" itu adalah institusi agama (bukan pada Tuhannya sendiri).
Akhirnya hubungan suami-istri cuman sebagai mesin produksi anak. Dan anaknya dijadikan pasukan perang pembela "tuhan" (tanda kutip lagi) , gitu? Mau anak siapa tidak penting, yang penting anak-anak. Mau telantar kelekeran tidak penting, karena makin dungu makin baik, yg penting jago gelut. Kalau perempuan yg penting subur, sexy bahenol, bisa menampung segala macam sperma. Semua ini DEMI mendirikan 'kerajaan tuhan'???
Padahal jelas bahwa antara "trust" dan "faith" adalah 2 hal yang sangat berbeda. Makna "faith" (iman) pun juga sudah dipermak dipelintir abis. Semata-mata semua demi tujuan kepentingan politik yg jahatnya luar biasa semprulna.
Tapi dungunya, kalau terjadi perceraian atau kebusukan yg lainnya, yg disalahkan adalah personnya sebagai akibat kurang patuh pada ajaran "tuhan". Alamak! Makin kejiret.
Apakah ini karena salahnya ajaran Tuhan???
TIDAK.
Sepuluh Perintah Allah no.8 ( dan Pancasila Buddhis ke-4; aspek ketiga dari Trihitakarana Hindu) adalah "Janganlah berdusta", tapi tidak dijalankan. Atau karena adanya "addendum" (disempurnakan) oleh ajaran politik berbungkus agama. "Demi ini, demi itu....yang buruk adalah boleh".
Adakah Tuhan mengajarkan demi demi begitu? Kalau ajaran Demit ya iya saya maklum.
Begitulah saja pesan singkat saya dalam rangka memperingati hari Dirgahayu Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga bangsa kita tidak lupa dengan budaya / tradisi leluhurnya, serta mau berjuang bersama untuk mempertahankannya sebagai landasan identitas Nasional Persatuan Indonesia. Kita saat ini baru merdeka secara De Jure tetapi belum merdeka secara De Facto, yang mana akan selalu direcoki urusan asing melalui proxy-wars antara sesama saudara sebangsa kita sendiri. Oleh karena itu segeralah merdekakan batinmu! koreksi hati dan pikiranmu! bangunlah jiwamu!
MERDEKA !!!
Rahayu.
---------------------------------
DISKUSI
Danz Suchamda Lihatlah ini tanda-tanda penghianatan anak bangsa. Apakah hanya karena tidak sengaja??
Tidak sengaja di sebuah ruang publik pada areal institusi formal ternama???
Jumat, 02 September 2016
RITUAL SUNGKEMAN DALAM AGAMA HINDU
Ageming Tirta
Air tak lagi bersari..
Bumi pun berhenti memberi,
Hyang Siwa terpekur kini..
Congkaknya manusia yang merasa mandiri,
Tak sadar tlah merusak tatanan pertiwi..
Lupa akan ageman bumi;
"Tirtha ngaran amrta", bahwa air adalah kehidupan itu sendiri...








