Kamis, 23 Agustus 2018

Sesajen = Saji, Sajian, Menyajikan, persembahan, mempersembahkan.
haturan (Bali) = Menghaturkan, persembahan. semua itu berkonotasi memberi, lalu kenapa kita dalam kondisi memberi/menghaturkan berani meminta sesuatu, bukankah itu tidak ada bedanya dengan di rumah makan/restaurant yang menyajikan makanan setelah itu meminta bayaran, bukankah itu transaksi namanya? lalu dimana letak ketulusan kita dalam meyadnya?

Sudah latah dalam pikiran kita sehari-hari saat ngayab banten/sesajen lalu dihimbuhi meminta/memohon/berdoa untuk kebaikan diri kita; nunas rahayu, nunas dilindungi, nunas pang mujur dll. apakah itu salah?  orang berdoa boleh-boleh saja hanya berdoa bukanlah budaya asli leluhur kita, karena berdoa adalah harapan permintaan, sesuatu yang belum terwujud kalau sudah terwujud kenapa lagi berdoa/berharap? jika doa dan harapan itu tidak terkabulkan pastinya kita akan kecewa, benci dll. disanalah kelihatan pamrih kita saat memberi yang disertai permintaan.  dalam budaya kita dihajarkan untuk lebih menghargai pemberian/ mensyukuri apa yang sudah didapat dengan menghaturkan sesaji/banten sebagai sarana, wahana suci wujud bakti kita pada yang memberi hidup dan kehidupan.


Tuhan, ring rahina..... tityang kari kaicen nyelang urip, meresidang pakedek pakenyung sekaluarga, rasa anghayubagia manah tiyang. canang sari, dupa, tirta puniki maka saran suci, wahana suci wujud bakti tityang majeng ring I Ratu.
"Om Puspa Danta Ya Namah, Om Dupa Dipastra Ya Namah, Om Tirta Amertha Ya Namah Svaha"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar