Rabu, 15 Januari 2020

5 Cara Memilih Dewasa Ayu Nganten, Upakara Bali


Om, Swastyastu, Semeton Bali! Apakah Anda berencana Nganten/menikah? Kali ini saya akan menjelaskan 5 cara mendapatkan hari baik untuk melakukan prosesi pernikahan atau dikenal dengan sebutan Dewasa Ayu Nganten, dalam Upakara Bali ini kita harus memperhatikan pakem wariga.

Standar minimal yang disebut dengan Aman dalam menjalankan kehidupan baru yang diawali dengan Natab Banten Penganten, maka dari itu, perlu diperhatikan 5 hal berikut ini, yang merupakan urutan prioritas dalam memilih dewasa ayu nganten:

#1. Wuku

#2. Dina/Hari

#3. Penanggal

#4. Sasih

#5. Subacara

Disamping itu, ada juga dalil yang perlu dan harus diperhatikan:

#a. Wewaran dikalahkan oleh wuku

#b. Wuku dikalahkan oleh penanggal

#c. Penanggal dikalahkan oleh sasih

#d. Sasih dikalahkan oleh dauh

#e. Dauh dikalahkan oleh WETUniya Sanghyang Triodasa Sakti (Kehening Hati).

Dari semuanya, yang terakhir itu cukup sulit dicapai, dan hanya sulinggihlah yang bisa melaksanakan hal terakhir tersebut secara normatif (Manah Hening), karena itulah Sulinggih disebut “Meraga Putus.”
Berikut ini penjelasan Cara Memilih Duase Ayu Nganten, Upakara Bali

1#. Wuku

Pilihan wuku-wuku di rekomendasikan, hati-hatilah memilih karena kesalahan mengambil keputusan memilih wuku ini mengakibatkan jangka menengah dalam menjalani bahtra rumah tangga Anda.
Ini beberapa wuku-wuku yang sangat direkomendasikan:

a. Landep

b. Ukir

c. Kulantir

d. Juluwangi

e. Merakih

f. Matal

g. Uye

h. Ugu

#2. Dina/Hari

Dina atau Hari merupakan bilangan Sapta Wara. Jika sudah memperhatikan Wuku, maka selanjutnya memperhatikan harinya. Didalam Wariga disebutkan Dewasa Ayu wewangun pewiwahan atau nganten dipilih pada hari:

#a. Senin atau Soma, yang mempunyai arti bertemu kebahagiaan.

#b. Rabu atau Budha, yang mempunyai arti baik.

#c. Kamis atau Wrespati, yang mempunyai arti Kinasihaning Jana (disanyangi orang banyak/masyarakat).

#d. Jum’at atau Sukra, yang mempunyai arti berbahagia/mewah.

Selain itu, sangat dilarang karena tidak baik.

#3. Penanggal

Penanggal/tanggal yang pas untuk memilih jalannya upakara pewiwahan/nganten. Perhitungan hari setelah Tilem. Penanggal yang di rekomendasikan untuk dipilih:

#a. Ping 1, artinya menemukan kebahagian.

#b. Ping 2, artinya berkecukupan.

#c. Ping 3, artinya banyak keturunan.

#d. Ping 5, artinya menemukan kebahagiaan/langgeng.

#e. Ping 7, artinya menemukan kerukunan.

#f. Ping 10, artinya murah rejeki.

#g. Ping 13, artinya mewah/berlimpah.

#4. Sasih/Bulan

Untuk sasih atau bulan direkomendasikan memilih sasih sebagai berikut:

#a. September/Katiga, Asuji=Banyak mempunyai keturunan.

#b. Oktober/Kapat, Kartika=Murah Rejeki.

#c. November/Kalima, Margasari=Mewah/berlimpah.

#d. Januari/Kapitu, Magha=Dirgayusa/langgeng.

#e. April/Kadasa, Waisyaka=Sangat baik, berbahagia, berwibawa.

#5. Subacara

Subacara merupakan hari yang paling dicari-cari dalam sebuah kegiatan Upakara Bali. Saya menyakinkan setiap hari ada baik maupun buruknya. Dan diupayakan untuk menghindari hari buruk untuk kerahayuan keluarga. Subacara ini bermakna “Nyupat” (Ngeruat) setiap keburukan yang terkandung dalam wewaran. Subacara ini jatuh pada:

#a. Senin penanggal ping 3.
#b. Rabu penggal ping 2 dan 3.
#c. Kamis penanggal ping 5.
#d. Jum’at penanggal ping 1,2 dan 3.


Senin, 06 Januari 2020

Ang-Ung-Mang


Hum

Hrah  - Phat

Astra  - Ya -  Namah

Om - Shree - Pasopati – Ya_Namah

Sa      - Ba      - Ta -      A - I

Om     - Na     - Ma -    Si - Wa -    Ya

Om  – Shree  – Paso –  Pati – Ya –  Namah - Svaha


Ung

Jyotir – Ya_Namah

Om  - Shree  - Narayanam

Om  - Shree  - Kala Chakra  - Ya_Namah

I       - Ba      - Sa -      Ta - A

Ya    - Na    - Ma -    Si - Wa   - Om

Om  - Shree  - Kala -  Chakra - Ya  – Namah - Svaha


Mang

Jyotir - Ya Namah

Om    - Siva    - Rudra

Om   - Maha   - Mudra -   Ya_Namah

A       - Ta     - Sa -     Ba - I

Wa     - Si     - Ma -    Na - Ya   - Om

Om  - Shree  - Maha -  Mudra - Ya  - Namah - Svaha


Minggu, 01 Desember 2019

Sejarah Kawitan Di Bali

BINGUNG MENCARI KAWITAN

By Watukembar Deglung

            Om Swastiastu,

Banyak orang bingung mencari Kawitan karena pada zaman Bali Kuna belum ada pemujaan Tuhan melalui Bhatara Hyang Kawitan. Stelah kalahnya Bali pemerintahan dipegang oleh Dalem Baturenggong dengan dibantu Danghyang Nirarta yg diberi gelar Pedanda sakti Wawu Rauh baru ada pemujaan Kawitan. Jadi orang2 Bali Mula yg sudah ada di Bali sebelum masuknya Dh Nirarta menjadi bingung untuk menelusuri jejak2 leluhur mereka yg sudah ada sebelum masuknya Dh Nirarrta. Pertanyaannya, dimanakah kawitan dan padharmanya para raja dan para ksatria Bali Kuna itu?

Sehingga banyak masyarakat Bali Mula masuk kedalam klompok Pasek, contoh: Kubayan, Dukuh, Karang Buncing, Tangkas, Bandesa, masuk ke soroh Pasek, padahal Kubayan itu adalah jabatan rohaniawan desa Bali Kuna sebelum masuknya Hindu ke Bali. Dukuh adalah turunan raja2 Bali Kuno yg diberi gelar kependetaan oleh Danghyang Nirartta yg diberi julukan Pedanda Sakti Wawurawuh. Banyak sekali kontroversi mengenai sejarah Bali ini yang perlu diluruskan. Catur Lawa (Dukuh, Pasek, Pande, Penyarikan) itu bukan soroh atau kelompok warga. Catur Lawa itu adalah 4 kelompok tugas yang membantu kelancaran jalannya upacara yang ada di Pr Penataran Besakih. Dukuh yang mempunyai tugas bagian simbol suci Tuhan atau yang "muput" upakara, Penyarikan mempunyai tugas bagian administrasi, Pande dan Pasek mempunyai tugas membuat sarana dan prasarana lainnya misalnya, membuat tempat pemiosan, menatah logam, dan kerangka lainnya.

Jadi dimanakah Kawitan dan Pedharmar masyarakat Bali Mula itu ??

Memuja Tuhan Melalui Pura Kawitan (Stana Leluhur Yang Disucikan), Media Terdekat Antara Manusia Dengan Tuhan/ Hyang Widhi

Pendiskreditan Kerajaan Badhahulu yang tertulis selama ini menjadi Beda Hulu (berselisih dengan pusat/Majapahit) dan Beda Muka (raja berkepala babi) oleh para penekun sastra dan para sejarawan, membawa dampak kebingungan bagi generasi muda Hindu yang ada di Bali, dalam meng-AJeg-kan agama dan budaya Hindu dari hampir kepunahan setelah jatuhnya kerajaan Majapahit oleh Sultan Demak yang beragama Islam di awal abad ke 16. Dengan menyatunya Hindu Majapahit dengan Hindu Bali yang dimediasi oleh Danghyang Nirartta kemudian diberi gelar Peranda Sakti Wawu Rauh adalah suatu keuntungan untuk memperkokoh kembali agama dan budaya Hindu yang pernah berjaya di bumi Nusantara ini pada awal tarikh masehi.

Dalam kitab Nagara Kretagama oleh Slamet Mulyana, pupuh nomor 14 dan 79, Negara Kertagama oleh Megandaru W. Kawuryan (2006:184), serta salinan lontar Piagem Dukuh Gamongan, milik Ida Pedanda Gede Jelantik Sugata, Griya Tegeh Budakeling, dialih aksara oleh I Wayan Gede Bargawa, halaman 12, secara jelas tertulis Badhahulu.

Tapi para alih aksara dan penterjemah lain, sengaja mengganti huruf ”a” awal diganti dengan huruf ”e”, sehingga menimbulkan beda arti dari para pembaca (Riana, 2009:100,377). Kalau boleh diuraikan kata per kata dalam kalimat. Kata Badhahulu berasal dari bahasa Jawa-Kuno, dari urat kata badha dan hulu. Badha artinya tempat, rumah, istana. Hulu artinya kepala, raja, pusat pemerintahan. Jadi Badhahulu adalah istana raja, pusat pemerintahan, namanya kerajaan Badhahulu dengan rajanya bergelar Sri Astasura Ratna Bumi Banten (Asta=delapan, Sura=dewa, Ratna=permata, Bumi Banten=Tanah Bali) artinya raja yang membawahi delapan wilayah kekuasaan pemeritahan di jagat Bali pada era itu, yaitu; Jimbaran, Badung, Tabanan, Buleleng, Bangli, Karangasem, Kelungkung, Mengwi (Narendra Dev Pandit Shastri, Sejarah Bali Dwipa, 1963).

Dalam Salinan lontar Piagem Dukuh Gamongan, menyebutkan secara tersirat, Badhahulu artinya, maka hulu hulu banda desa sajagat Bangsul arti bebas, sebagai kepala/pusat pemerintahan dari masing-masing kepala desa yang ada di bumi Bali pada zaman itu.
Dalam salinan lontar Piagem Dukuh Gamongan, Purana Bali Dwipa, Mandala Wisata Samuan Tiga, Blahbatuh, Gianyar, serta Usana Bali, secara tegas menyebutkan bahwa pusat kraton raja patih Sri Jaya Katong, Raja Masula-Masuli sampai Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten terletak di daerah Batahanar (istana baru) yang diduga kemudian menjadi nama Kabupaten Gianyar. Di Batahanar sekarang tempat ini berdiri sebuah pura dengan nama Pura Samuan Tiga di Desa Bedulu, Gianyar. Orang-orang dari Jawa menyebut Badhahulu kemungkinan beliau tidak tahu nama desa tempat kerajaan Astasura Ratna Bumi Banten, Raja akhir Bali Kuno pada saat itu.

Dalam prasasti-prasasti Bali Kuno tidak ditemukan Raja Astasura Ratna Bumi Banten dengan maha patih kerajaan bergelar Kebo Iwa berselisih paham (Bedahulu) dengan kerajaan Majapahit dengan maha patih kerajaan bergelar Gajah Mada. Secara akal sehat, seandainya memang kerajaan Badhahulu berselisih paham dengan kerajaan Majapahit, mungkinkah Kebo Iwa mau datang ke Jawa? Prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten, secara administratif Senapati (mahapatih) kerajaan Batahanar pada era itu adalah Senapati Kuturan Makakasir Mabasa Sinom (prasasti Langgahan Caka 1259/1337 Masehi). Skema silsilah Sri Karang Buncing, Sri Kbo Iwa misan mindon dengan Sri Astasura Ratna Bumi Banten berasal dari turunan Sri Maha Sidhimantradewa. Sri Kbo Iwa tapeng dada kerajaan Batahanar yang mewilayahi Blahbatuh, desa paling dekat dengan pusat pemerintahan, disamping di bantu oleh para senapati Bali lainnya.

Dalam pamancangah dari Bali, setelah wafatnya Mahapatih Kebo Iwa yang kena pangindra jala (perangkap) oleh Mahapatih Gajah Mada, akhirnya pada tahun 1343 para Arya Majapahit menyerang pulau Bali, yang pada saat itu dijaga oleh para patih kerajaan Bhadahulu antara lain, Ki Pasung Grigis di Tengkulak, Si Gudug Basur di Batur, Si Kala Gemet di Tangkas, Si Girimana di Ularan, Si Tunjung Tutur di Tenganan, Si Tunjung Biru di Tianyar, Ki Tambyak di Jimbaran, Ki Bwahan di Batur, Ki Kopang di Seraya, Ki Walung Singkal di Taro, Ki Agung Pemacekan sebagai Demung ....

Penyerangan terbagi menjadi tiga arah yang dibawah pimpinan Mahapatih Gajahmada menuju wilayah Bali Timur dibantu oleh para Patih dan para Arya lainnya mendarat di Tianyar. Arya Damar dan Arya Sentong, Arya Kutawaringin mendarat di Bali Utara. Dan Arya Kenceng, Arya Belog, Arya Pangalasan, Arya Kanuruhan, mendarat di pantai Bali Selatan dan menuju ke Kuta. Tidak diungkapkan dahsyatnya pertempuran pada ketiga wilayah tesebut.

Masa transisi pemerintahan dari kerajaan Bhadahulu ke kerajaan Majapahit, dari tahun 1343 sampai tahun 1352 masih terjadi pemberontakan atau dengan kata lain orang-orang Bali Kuno masih melakukan perlawanan. Selama sembilan tahun masa transisi pemerintahan terjadi 30 kali pembrontakan yang menyebar di Pulau Bali. Untuk menengahi atau mengisi kekosongan pemerintahan selama belum ditunjuk raja baru yaitu Sri Kresna Kepakisan, maka diangkatlah seseorang dan diberi anugrah jabatan Kyayi Agung Pasek Gelgel. Yang menjadi pertanyaan, siapakah Kyayi Agung Pasek Gelgel? Mungkinkah beliau berasal dari Jawa untuk menengahi perselisihan antara Bali dan Majapahit? Dalam Kamus Jawa-Kuno oleh Zoetmulder (1995:786), kata Pasek berarti, pemberian, anugrah, hadiah. Seandainya Kyayi Agung Pasek Gelgel itu berasal dari Jawa semestinya beliau disebut Arya. Karena beliau berperan penting menjadi pemimpin di dalam menengahi konflik transisi pemerintahan akhir Bali Kuno. Setelah datangnya Danghyang Nirartta, sebutan Arya dikenal menjadi Gusti dan berubah sebutan setelah datangnya penjajahan Belanda.

Dengan adanya konsep pemujaan Tuhan melalui Bhatara Hyang Kawitan sehingga banyak orang-orang Bali-Mula masuk dalam satu garis keturunan Warga Pasek, misalnya: kubahyan, tangkas, bendesa, karang buncing dan warga Bali Mula lainnya. Warga Bali Mula yang diperlukan wibawanya dalam menjaga stabilitas pemerintahan yang baru disebut arya misalnya, Sri Giri Ularan putra dari Sri Rigis menjadi mahapatih (senapati) di kerajaan Dalem Baturenggong menjadi Arya Ularan (Gusti Ularan), Keturunan Sri Karang Buncing menjadi Arya Karang Buncing, Gusti Karang Buncing. Sri Rigis menjadi Arya Rigis, Sri Pasung Giri menjadi Arya Pasung Giri, Si Tunjung Tutur menjadi Arya Tunjung Tutur, Si Tunjung Biru menjadi Arya Tunjung Biru.

Pertanyaan lainnya, apa interelasi spiritual antara Gotra Pasek (Kyayi Agung Pasek Gelgel) dengan Catur Lawa yaitu 4 (empat) kelompok tugas yang bertanggung jawab terhadap kelancaran upacara di Pura Penataran Besakih yaitu Dukuh, Pasek, Pande, Penyarikan, mungkinkah beliau-beliau ini keturunan Bali Kuno. Pada era itu sistem pemerintahan ditentukan oleh fungsi (bakat) dan pekerjaan seseorang bukan ditentukan oleh kelahirannya seperti dalam sistem soroh (klen, kasta). Dimana persiapan upacara dan upakara akan dilakukan ditempat di pura mana akan diadakan pujawali, ada bagian yang mengurus tentang surat menyurat, bagian perlengkapan upakara, bagian yang berwenang tentang simbol suci Tuhan atau pendeta yang memimpin upacara dan bagian lainnya. Pasek dalam hal ini bukanlah sebuah treh, soroh, gotra, wangsa, klen (kelompok warga). Pasek adalah sebuah istilah, jabatan atau bagian yang bertugas membantu mensukseskan jalannya upakara dan upacara yang ada di Pura Penataran Besakih. Pura Pande menata segala peralatannya yang terbuat dari benda logam dan rangka peralatan lain. Pura Penyarikan bertugas menata segala kebutuhan tata usaha administrasi agar segala sesuatu berjalan dengan teratur (Gobyah, I Ketut. Bali Post 30 April 2008).
Dalam satu kelompok seksi/tugas tentu anggotanya terdiri dari beberapa orang yang bisa saja berasal dari kelompok warga lain. Istilah Dukuh berasal dari turunan Dukuh Gamongan dari Desa Gamongan, Tiyingtali, Karangasem, yang melahirkan para Dukuh yang ada di jagat Bali. Kemudian ditegaskan kembali oleh Danghyang Nirarta adalah suatu anugrah gelar Dukuh (pendeta) yang diberikan untuk warga Bali-Mula dan Bali Kuno, walaupun dari keturunan wangsa apa pun mereka. Dukuh adalah sebuah jabatan yang bertugas sebagai pemimpin upacara keagamaan di Pura Besakih.

Jadi pendeta Dukuh yang memimpin upacara dan upakara di Bali pada era itu, sebelum datangnya para Brahmana Majapahit dari Jawa. Pada zaman Gelgel datang ke Bali dua pendeta Siwa dan Buddha dari Majapahit ialah Danghyang Nirartha dan Danghyang Astapaka memperkuat hubungan Majapahit dan Bali. Pada waktu itu didirikan pedharman Raja/Dalem Samprangan dan Dalem Gelgel berupa meru-meru terletak di belakang Pura Catur Lawa.

Tentunya pendirian pedharman-pedharman itu juga melalui nyadnya craddha. Dr. Martha A. Muuses mengidentifikasikan yadnya craddha dengan upacara mamukur di Bali yaitu upacara mengembalikan atma ke unsur asalnya yakni Paratma. Dengan demikian Pura Catur Lawa merupakan kumpulan orang-orang Bali Mula yang mendapat tugas sebagai cikal bakal untuk ngamong (bertanggung jawab) terhadap kelancaran upacara di Pura Penataran Besakih, simbol stana suci ida bhatara gunung Agung/Tolangkir. Pura Besakih merupakan lambang satu kesatuan antara Hindu Bali dan Hindu Majapahit.

Setelah kalahnya kerajaan Badhahulu oleh kerajaan Majapahit, terjadi dua terapan relegi yang dianut oleh masyarakat Bali saat kini, yaitu adanya sebagian warga atau desa yang mengikuti relegi sejarah Bali Kuno, dan ada sebagian warga atau desa yang mengikuti relegi sejarah Majapahit, bahkan masyarakat bisa menjalani kedua konsep tersebut, mengikuti aturan para pimpinan yang berkuasa pada saat itu. Berikut komparasi antara, yaitu adanya Sugiyan Jawa dan Sugiyan Bali. Dalam Usana Jawa menyebutkan, sisa tentara Majapahit yang masih hidup dan menetap di Bali, sudah mempunyai anak cucu, saling kawin mengawinkan berbaur, silih pinang meminang antara wanita Bali, namun ada tanda-tandanya, jika setiap hari raya: Kamis Wage Sungsang yang disebut Sugiyan Jawa, rakyat Majapahit yang mempunyai bagian menyelenggarakan yadnya. Jika setiap hari Jumat Kliwon Sungsang yang disebut Sugiyan Bali, rakyat Bali asli yang mempunyai bagian menyelenggarakan yadnya. Juga adanya tonggak piodalan yang satu mengikuti sasih (bulan) dan yang satu lagi mengikuti wuku (minggu). Acara pamelastian yang satu mengikuti sasih ka sanga (bulan ke 9) dan satu lagi mengikuti sasih ka dasa (bulan ke 10). Disamping hari penyepian di sawah, di segara, di tegalan, di pura, terdapat perbedaan sesuai dengan dresta desa, kala, patra setempat. Juga dalam acara resi yadnya padiksan dalam pengesahan seorang pendeta, yang satu mengikuti melalui napak wakul bhatara kawitan, dan satu lagi mengikuti napak kaki guru nabe.

Semenjak itu juga perlahan-lahan terjadi penataan pemerintahan yang baru, baik dalam bidang agama, sosial, politik, ekonomi, maupun kesusastraan, dan lainnya dalam menyatukan paham Bali Kuno dengan paham Majapahit. Yang dulunya seorang pendeta mewakili sekte/agama yang dianut, walaupun dari kelompok keturunan mana pun beliau, misalnya; dang acharya sebutan pendeta sekte Siwa, dang upadhyaya gelar pendeta untuk sekte Budha, Rsi Bhujangga gelar pendeta sekte Waisnawa, Pitamaha gelar pendeta sekte Brahma, Bhagawan gelar pendeta sekte Bhairawa, dan sebagainya. Sekarang masing-masing kelompok warga diberikan gelar pendeta dan identitas sosial lain dalam kehidupan bermasyarakat, misalnya: Dukuh gelar pendeta bagi warga Bali Kuno, Ida Pedanda gelar pendeta bagi warga Ida Bagus, Sri Mpu gelar pendeta bagi warga Pasek, Rsi Bhagawan gelar pendeta untuk warga para Gusti, Rsi Bujangga gelar pendeta bagi warga Sengguhu, Sira Mpu gelar pendeta bagi warga Pande, dan seterusnya, lengkap dengan aturan atiwa-tiwa/pitra yadnya dan atribut lainnya. Pertanyaannya adalah mengikuti paham manakah pendeta para gotra (kelompok warga) itu, apakah mengikuti paham Siwa, Boddha, Waisnawa, Bhairawa, Sora, Sakta, Sambu, Rsi atau yang lain?

Para Arya Majapahit yang telah berjasa didalam menaklukkan rakyat Bali, lalu dicandikan di suatu tempat untuk memuja roh leluhur yang telah suci yang ada di Jawa sebagai penghayatan atau media terdekat dengan leluhur disebut Pura Kawitan (stana suci para leluhur). Dalam Kamus Bali-Indonesia (Tim : 801) menyebutkan kata Kawitan artinya leluhur, asal mula (warga, wangsa, treh, gotra).
Dengan munculnya konsep penataan pemujaan melalui Bhatara Hyang Kawitan sehingga membawa dampak kebingungan bagi masyarakat Bali Mula untuk menelusuri jejak-jejak para leluhur mereka yang sudah ada sebelum datangnya sang konseptor Danghyang Nirartta dari Jawa. Para Raja dan Ksatria Bali kuno, dan jabatan pemerintah bawahan seperti; para senapati, para pendeta, samgat, caksu, kubayan, Si Tunjung Biru, Si Kalung Singkal, Ki Tambyak, Ki Tunjung Tutur, Ki Kopang, Ki Bwahan, Si Pangeran Tangkas, Ki Pasung Grigis, dan leluhur masyarakat Bali Aga dan Bali Mula yang lain, pada saat kini dimanakah Pura Kawitan beliau-beliau itu? Dan dimanakah Padharman beliau-beliau itu?

Dengan adanya reformasi pemerintahan oleh Raja Dalem Baturenggong dengan dibantu pendeta kerajaan Danghyang Nirartta mempunyai konsep yang sangat cemerlang sekali menyatukan warga agar tidak tercerai berai beralih ke agama/sekte/paham lain. Yaitu dengan konsep memuja Tuhan melalui Bhatara Hyang Kawitan. Sesuai dengan sloka Taittiriya Upanisad menyebutkan: “Seorang ibu adalah dewa, seorang bapak adalah dewa, seorang guru adalah dewa, dan para tamu pun adalah dewa”. Dengan demikian secara empiris, keturunanya akan memuja Tuhan ‘lewat’ roh suci bapak dan ibu, kakek nenek, leluhur dan seterusnya, yang pada akhirnya akan sampai juga pada Beliau/Tuhan.

Para leluhur hanya sebatas menyaksikan dan ‘mengantarkan’ doa, maksud, dan tujuan kepada Tuhan atau kepada dewa yang mesti disampaikan oleh para leluhur kita.
Para leluhur adalah asal muasal kita sebagai manusia. Semenjak masih janin dalam kandungan Ibu, kita sudah terhubung dengan-Nya (ibu) yaitu melalui tali pusar (ari-ari). Tali pusar media penghubung kehidupan dalam kandungan antara sang janin dengan sang ibu.

Dalam penerapan keagamaan sehari-hari ‘mungkin’ ari-ari (tali pusar) ini disimbolkan menjadi selempot (senteng), karena selalu melekat menutupi tali pusar umat Hindu di Bali dalam setiap menghadap-Nya Selain sebagai pengikat panca budhiindria dan panca karmenindria, simbol mengekang sepuluh lobang yang ada dalam tubuh pada saat seseorang berkehendak melakukan puja dan puji terhadap Tuhan/Hyang Widhi. Walaupun seseorang memakai celana panjang jika sudah memakai senteng/selempot akan diijinkan masuk ke pura. Senteng/selempot hanyalah sebuah simbol dan atau sebuah peraturan. Bukankah sebuah simbol mengandung makna tertentu dibalik simbol-simbol itu. Sama dengan seseorang harus memiliki KTP, Passport, dan identitas lain sebagai simbol pengganti dari seseorang jika ingin mengetahui identitas lebih lengkap tentang dirinya. Demikian juga dengan senteng (selempot) yang mengandung makna sebagai penghubung ke para leluhur warga, dan para leluhur akan mem-bahasa-kan doa, maksud, dan upacara umat kepada Tuhan/Hyang Widhi. Sesungguhnya kita tidak tahu bahasa apa yang dipakai oleh para dewa dalam berkomunikasi antara dewa dan dewa itu sendiri.

.... kira2 demikian sejarah munculnya konsep pemujaan KAWITAN di jagat Bali ini ...
dikutip dari : sumber



Kamis, 23 Agustus 2018

menjadi sulinggih adalah tujuan kita semua, sulinggih = linggih/tempat yang baik. apa yang membuat kita mendapat tempat yang baik adalah perbuatan baik kita. berbuat baik dan menjadi sulinggih sudah semestinya menjadi kesadaran kita dalam keseharian. bukan karena takut dosa apalagi dg ancaman mendapat neraka. sebagai umat Hindu yang mempercayai adanya reingkarnasi pada saatnya nanti sulinggih inilah yang menempatkan kita ke kehidupan yang lebih baik dan itulah esensinya terlahir berulang-ulang untuk merubah yang belum baik menjadi lebih baik.



Sesajen = Saji, Sajian, Menyajikan, persembahan, mempersembahkan.
haturan (Bali) = Menghaturkan, persembahan. semua itu berkonotasi memberi, lalu kenapa kita dalam kondisi memberi/menghaturkan berani meminta sesuatu, bukankah itu tidak ada bedanya dengan di rumah makan/restaurant yang menyajikan makanan setelah itu meminta bayaran, bukankah itu transaksi namanya? lalu dimana letak ketulusan kita dalam meyadnya?

Sudah latah dalam pikiran kita sehari-hari saat ngayab banten/sesajen lalu dihimbuhi meminta/memohon/berdoa untuk kebaikan diri kita; nunas rahayu, nunas dilindungi, nunas pang mujur dll. apakah itu salah?  orang berdoa boleh-boleh saja hanya berdoa bukanlah budaya asli leluhur kita, karena berdoa adalah harapan permintaan, sesuatu yang belum terwujud kalau sudah terwujud kenapa lagi berdoa/berharap? jika doa dan harapan itu tidak terkabulkan pastinya kita akan kecewa, benci dll. disanalah kelihatan pamrih kita saat memberi yang disertai permintaan.  dalam budaya kita dihajarkan untuk lebih menghargai pemberian/ mensyukuri apa yang sudah didapat dengan menghaturkan sesaji/banten sebagai sarana, wahana suci wujud bakti kita pada yang memberi hidup dan kehidupan.


Tuhan, ring rahina..... tityang kari kaicen nyelang urip, meresidang pakedek pakenyung sekaluarga, rasa anghayubagia manah tiyang. canang sari, dupa, tirta puniki maka saran suci, wahana suci wujud bakti tityang majeng ring I Ratu.
"Om Puspa Danta Ya Namah, Om Dupa Dipastra Ya Namah, Om Tirta Amertha Ya Namah Svaha"


Sabtu, 09 Juni 2018

DAPUR KERIS

DAPUR KERIS adalah penamaan ragam bentuk atau tipe keris, sesuai dengan ricikan yang terdapat
pada keris itu dilihat dari jumlah luknya. Penamaan dapur keris ada patokannya, ada pembakuannya.
Dalam dunia perkerisan, patokan atau pembakuan ini biasanya disebut pakem dapur keris. Misalnya,
keris yang bentuknya lurus, memakai gandik polos, tikel alis, danpejetan, disebut keris dapur Tilam
Upih.

Jadi, semua keris yang bentuknya seperti itu, namanya tetap dapur Tilam Upih. Keris buatan mana pun
atau buatan siapa pun, kalau bentuknya seperti itu, namanya tetap dapur Tilam Upih. Pembedaan
selanjutnya adalah dengan melihat tangguh (era/zaman pembuatan, atau gaya pembuatan), melihat
gambaran bentuk pamornya, dan memperkirakan empu pembuatnya.

Itulah sebabnya, keris berdapur Tilam Upih mungkin ada ratusan ribu jumlahnya, dan bahkan dapur
Nagasasra yang terkenal itu ada puluhan ribuan pula jumlahnya. Bila dibandingkan dengan dunia
otomotif, bentuk mobil juga dapat dibadakan antara jeep, truk, bis, sedan, pick-up, dsb. Jumlah jeep
di dunia ini mungkin ada jutaan buah, tetapi masing-masing dapat dibedakan karena merknya
berlainan, tahun pembuatannya ber-beda, warnanya berbeda, dan interior serta variasinya pun
berlainan satu sama lain.



Demikian pula dengan keris. Walaupun ada ratusan keris yang dapurnya sama, antara satu dan lainnya
selalu dapat dibedakan. Dunia perkerisan di masyarakat suku bangsa Jawa mengenal 145 macam dapur
keris. Namun dari jumlah itu, yang dianggap sebagai dapur keris yang baku atau mengikuti pakem
hanya sekitar 120 macam.

Serat Centini, salah satu sumber tertulis, yang dapat dianggap sebagai pedoman dapur keris yang
pakem, memuat rincian jumlah dapur keris sebagai berikut: Keris lurus ada 40 macam dapur.
Keris luk 3 (tiga) ada 11 macam. Keris luk 5 (lima) ada 12 macam. Keris luk 7 (tujuh) ada 8 macam.
Keris luk 9 (sembilan) ada 13 macam. Keris luk 11 (sebelas) ada 10 macam. Keris luk 13 (tigabelas)
ada 11 macam. Keris luk 15 (limabelas) ada 3 macam. Keris luk 17 (tujuhbelas) ada 2 macam.
Keris luk 19 (sembilan belas) sampai luk 29 (dua puluh sembilan) masing-masing ada semacam.

Namun, menurut manuskrip Sejarah Empu, karya Pangeran Wijil, jumlah dapur yang dianggap pakem
lebih banyak lagi. Catatan itu menunjukkan dapur keris lurus ada 44 macam, yang luk tiga ada
13 macam, luk sebelas ada 10 macam, luk tigabelas adal 1 macam, luk limabelas ada 6 macam,
luk tujuhbelas ada 2 macam, luk sembilanbelas sampai luk duapuluh sembilan ada dua macam, dan
luk tigapuluh lima ada semacam. Jumlah dapur yang dikenal sampai dengan dekade tahun 1990-an,
lebih banyak lagi. Di Pulau Jawa pada umumnya, dan Jawa Tengah, Jawa Timur khususnya, serta
Pulau Madura orang mengenal ragam bentuk dapur keris sebagai berikut.

demikianlah pengertian dari istilah dapur keris semoga bermanfaat untuk menambah pengetahuan



MEMENE DIJA?



"MEMENE DIJA"
Suba nyaluk sandi kaon, Pan Bali teka uli carike laut metakon ken Men Bali..
"Iwayan dija, Memene?"
"Nto ye melajah di kamarne" keto pesautne Men Bali.
"Mun, Imade nak kija?"
"Ye ngae ketrampilan di bale dlod"
"Inyoman dija?"
"Uling tuni mebalih tivi"
Keto keto deen petakonne Pan Bali ken kurenan ne sabilang teka li uma. Mirib mula keto carane nresnain pianak"ne.
Sabilang pianak"ne teka uli sekolah, makejang pada nakonang....
"Memene dija?"
Konyo mesadu ken memene, nyatuang unduk di sekolah. Iwayan ngajumang nilai ulangane. Imade nutur guru"ne baud. Inyoman ngorahin timpalne nakal".
Men Bali madingehang sambil ngusu usuin sirah pianak"ne kenyem kenyem.
Sakewala galahe terus mejalan.....
Pianak"ne jani suba pada kelih, pada ririh. Suba ado ne nganten tur nglah pianak. Iwayan dadi dokter nongos di kota. Imade dadi polisi nugas di jawa.
Nu inyoman gen jumah krana nu kuliah.
Sabilang teka li uma, nu masih inget Pan Bali metakon ken kurenan ne...
"Iwayan sing ado singgah, Memene?"
"Tusing, mirib sedeng liyu pasien ne?"
"Imade sing maan nelpon?"
"Sing masih...mirib ye nu sibuk"
"Men, inyoman kija?"
"Ento di kamare ngae tugas!"
Negak lantas Pan Bali jak kurenan ne di ampik paone.
"Tetelu iraga nglah pianak, mantu dadua, nemnem cucune...inih ye rame benehne umahe, Memene?"
Keto ye ngarenggeng Pan Bali ken kurenan ne. Men Bali nguntul sambil ngetelang yeh mata.
Nyanggra lantas Ngusaba di desane, mimihh sing kodag kone kendelne Men Bali ngantiang pianak lan cucune teka.
"Sinah suba rame jani natahe. Iraga tua lakar garang cucu. Ada ne ngeling nagih megandong. Ado ne ngambul nagih meabin"
Keto kenehne Men Bali sambilange kenyem kenyem pedidine.
Di panumayane...nyak saje teka pianak lan cucu"ne. Makejang mulih ngaba mobil. MIMIHHH...aeng legane Men Bali nyagjagin mobilne iwayan. Pang maan gen nyangkolin cucune.
"Ayukk...anak" salam dulu sama nenek?"
Keto munyin kurene iwayan. Buka telu panak"ne iwayan salim ken Men Bali. Ye mara ukane niman cucune, buin mantune ngomong...
"Ayukk cepat kedalem, di luar cuacanya panas banyak debu. Nanti kalian sakit!"
Buung Men Bali niman cucune. Matolihan ye sik Pan Bali, kurenan ne nguntul sing mesaut. Mara ukane macelep, teka pianakne imade ngaba mobil barak.
Buin kendel atine Men Bali nepuk pianakne. Sakewala lacur,,,patuh ane katerima. Makejang macelep ke kamare, kadirasa nyambat sara ken rerama ne sing sempat. Apa buin kal metakon...
"Meme Bapa seger?"
Konyo sibuk ken urusane. Iwayan pragat diep laptopne den. Imade sibuk uli tuni mecil hape. Inyoman iteh di kamarne dogen.
"Bapane...tyang dot gati negakin mobilne imade. Bantes ajaka ked di pasih den kal kanggoang?"
Keto raosne Men Bali sambil usu usuine mobil barake nto. Sing rumasa ngetel yeh paningalane. Pangenahne saje Men Bali ngusuin mobil, sakewala di kenehne dot gati ngusuin sirah pianak"ne.
Abulan mejalan.....Men Bali jani gelem kanti nginep di rumah sakit. Inyoman suba nelpun bli bline.
"Bli nu sibuk, Man? Sedeng ujian ngalih spesialis?" Keto sautne bline iwayan.
"Bli sing maan cuti? Benjep transferin ye pipis anggon biaya rumah sakit!"
Keto imade masih sing ngidang teka.
Kedua pianakne sing ngidang teka nelokin. Kanti lantas Men Bali ngalahin.
Di setrane....gerong gerong ling pianak"ne. Ngorang dewekne nu sayang gati ken meme. Ngidih pelih onden ngidang ngae memene bagia....
Sakewala imeme suba di beten gumuke. Igumuk sing ngidang ngusu usuin sirah ipianak. Gumuke sing ngidang nyangkol cucu"ne. Igumuk sing ngidang menekin mobil barak.
Pan Bali sedihe tan kadi kadi. Mapan liyu pesan tawange ane dotang Men Bali tonden kaisinin. Pan Bali ngomong pedidine ken gumuke...
"Memene....iwayan dija? Sing mesaut Men Bali
"Imade dija...Memene?" Kanti membah ketelan yeh matane Pan Bali. Sing masih kurenan ne mesaut.
"Inyoman dijaaaa....Memeneeeeee"
Bah Pan Bali disamping gumuk kurenan ne. Buin kejepan,disubane iye inget....
buin Pan Bali metakon....
"MEMENE....DIJAA?"