BINGUNG MENCARI KAWITAN
By
Watukembar Deglung
Om Swastiastu,
Banyak orang bingung mencari Kawitan karena pada zaman Bali Kuna belum ada
pemujaan Tuhan melalui Bhatara Hyang Kawitan. Stelah kalahnya Bali
pemerintahan dipegang oleh Dalem Baturenggong dengan dibantu Danghyang
Nirarta yg diberi gelar Pedanda sakti Wawu Rauh baru ada pemujaan Kawitan.
Jadi orang2 Bali Mula yg sudah ada di Bali sebelum masuknya Dh Nirarta
menjadi bingung untuk menelusuri jejak2 leluhur mereka yg sudah ada sebelum masuknya
Dh Nirarrta. Pertanyaannya, dimanakah kawitan dan padharmanya para raja dan
para ksatria Bali Kuna itu?
Sehingga banyak masyarakat Bali Mula masuk kedalam klompok Pasek, contoh:
Kubayan, Dukuh, Karang Buncing, Tangkas, Bandesa, masuk ke soroh Pasek,
padahal Kubayan itu adalah jabatan rohaniawan desa Bali Kuna sebelum masuknya
Hindu ke Bali. Dukuh adalah turunan raja2 Bali Kuno yg diberi gelar
kependetaan oleh Danghyang Nirartta yg diberi julukan Pedanda Sakti
Wawurawuh. Banyak sekali kontroversi mengenai sejarah Bali ini yang perlu
diluruskan. Catur Lawa (Dukuh, Pasek, Pande, Penyarikan) itu bukan soroh atau
kelompok warga. Catur Lawa itu adalah 4 kelompok tugas yang membantu
kelancaran jalannya upacara yang ada di Pr Penataran Besakih. Dukuh yang
mempunyai tugas bagian simbol suci Tuhan atau yang "muput" upakara,
Penyarikan mempunyai tugas bagian administrasi, Pande dan Pasek mempunyai
tugas membuat sarana dan prasarana lainnya misalnya, membuat tempat pemiosan,
menatah logam, dan kerangka lainnya.
Jadi dimanakah Kawitan dan Pedharmar masyarakat Bali Mula itu ??
Memuja Tuhan Melalui Pura Kawitan (Stana Leluhur Yang Disucikan), Media
Terdekat Antara Manusia Dengan Tuhan/ Hyang Widhi
Pendiskreditan Kerajaan Badhahulu yang tertulis selama ini menjadi Beda Hulu
(berselisih dengan pusat/Majapahit) dan Beda Muka (raja berkepala babi) oleh
para penekun sastra dan para sejarawan, membawa dampak kebingungan bagi
generasi muda Hindu yang ada di Bali, dalam meng-AJeg-kan agama dan budaya
Hindu dari hampir kepunahan setelah jatuhnya kerajaan Majapahit oleh Sultan
Demak yang beragama Islam di awal abad ke 16. Dengan menyatunya Hindu
Majapahit dengan Hindu Bali yang dimediasi oleh Danghyang Nirartta kemudian
diberi gelar Peranda Sakti Wawu Rauh adalah suatu keuntungan untuk
memperkokoh kembali agama dan budaya Hindu yang pernah berjaya di bumi
Nusantara ini pada awal tarikh masehi.
Dalam kitab Nagara Kretagama oleh Slamet Mulyana, pupuh nomor 14 dan 79,
Negara Kertagama oleh Megandaru W. Kawuryan (2006:184), serta salinan lontar
Piagem Dukuh Gamongan, milik Ida Pedanda Gede Jelantik Sugata, Griya Tegeh
Budakeling, dialih aksara oleh I Wayan Gede Bargawa, halaman 12, secara jelas
tertulis Badhahulu.
Tapi para alih aksara dan penterjemah lain, sengaja mengganti huruf ”a” awal
diganti dengan huruf ”e”, sehingga menimbulkan beda arti dari para pembaca
(Riana, 2009:100,377). Kalau boleh diuraikan kata per kata dalam kalimat.
Kata Badhahulu berasal dari bahasa Jawa-Kuno, dari urat kata badha dan hulu.
Badha artinya tempat, rumah, istana. Hulu artinya kepala, raja, pusat
pemerintahan. Jadi Badhahulu adalah istana raja, pusat pemerintahan, namanya
kerajaan Badhahulu dengan rajanya bergelar Sri Astasura Ratna Bumi Banten
(Asta=delapan, Sura=dewa, Ratna=permata, Bumi Banten=Tanah Bali) artinya raja
yang membawahi delapan wilayah kekuasaan pemeritahan di jagat Bali pada era
itu, yaitu; Jimbaran, Badung, Tabanan, Buleleng, Bangli, Karangasem,
Kelungkung, Mengwi (Narendra Dev Pandit Shastri, Sejarah Bali Dwipa, 1963).
Dalam Salinan lontar Piagem Dukuh Gamongan, menyebutkan secara tersirat,
Badhahulu artinya, maka hulu hulu banda desa sajagat Bangsul arti bebas,
sebagai kepala/pusat pemerintahan dari masing-masing kepala desa yang ada di
bumi Bali pada zaman itu.
Dalam salinan lontar Piagem Dukuh Gamongan, Purana Bali Dwipa, Mandala Wisata
Samuan Tiga, Blahbatuh, Gianyar, serta Usana Bali, secara tegas menyebutkan
bahwa pusat kraton raja patih Sri Jaya Katong, Raja Masula-Masuli sampai Raja
Sri Astasura Ratna Bumi Banten terletak di daerah Batahanar (istana baru)
yang diduga kemudian menjadi nama Kabupaten Gianyar. Di Batahanar sekarang
tempat ini berdiri sebuah pura dengan nama Pura Samuan Tiga di Desa Bedulu,
Gianyar. Orang-orang dari Jawa menyebut Badhahulu kemungkinan beliau tidak
tahu nama desa tempat kerajaan Astasura Ratna Bumi Banten, Raja akhir Bali
Kuno pada saat itu.
Dalam prasasti-prasasti Bali Kuno tidak ditemukan Raja Astasura Ratna Bumi
Banten dengan maha patih kerajaan bergelar Kebo Iwa berselisih paham (Bedahulu)
dengan kerajaan Majapahit dengan maha patih kerajaan bergelar Gajah Mada.
Secara akal sehat, seandainya memang kerajaan Badhahulu berselisih paham
dengan kerajaan Majapahit, mungkinkah Kebo Iwa mau datang ke Jawa? Prasasti
yang dikeluarkan oleh Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten, secara
administratif Senapati (mahapatih) kerajaan Batahanar pada era itu adalah
Senapati Kuturan Makakasir Mabasa Sinom (prasasti Langgahan Caka 1259/1337
Masehi). Skema silsilah Sri Karang Buncing, Sri Kbo Iwa misan mindon dengan
Sri Astasura Ratna Bumi Banten berasal dari turunan Sri Maha Sidhimantradewa.
Sri Kbo Iwa tapeng dada kerajaan Batahanar yang mewilayahi Blahbatuh, desa
paling dekat dengan pusat pemerintahan, disamping di bantu oleh para senapati
Bali lainnya.
Dalam pamancangah dari Bali, setelah wafatnya Mahapatih Kebo Iwa yang kena
pangindra jala (perangkap) oleh Mahapatih Gajah Mada, akhirnya pada tahun
1343 para Arya Majapahit menyerang pulau Bali, yang pada saat itu dijaga oleh
para patih kerajaan Bhadahulu antara lain, Ki Pasung Grigis di Tengkulak, Si
Gudug Basur di Batur, Si Kala Gemet di Tangkas, Si Girimana di Ularan, Si
Tunjung Tutur di Tenganan, Si Tunjung Biru di Tianyar, Ki Tambyak di
Jimbaran, Ki Bwahan di Batur, Ki Kopang di Seraya, Ki Walung Singkal di Taro,
Ki Agung Pemacekan sebagai Demung ....
Penyerangan terbagi menjadi tiga arah yang dibawah pimpinan Mahapatih
Gajahmada menuju wilayah Bali Timur dibantu oleh para Patih dan para Arya
lainnya mendarat di Tianyar. Arya Damar dan Arya Sentong, Arya Kutawaringin
mendarat di Bali Utara. Dan Arya Kenceng, Arya Belog, Arya Pangalasan, Arya
Kanuruhan, mendarat di pantai Bali Selatan dan menuju ke Kuta. Tidak
diungkapkan dahsyatnya pertempuran pada ketiga wilayah tesebut.
Masa transisi pemerintahan dari kerajaan Bhadahulu ke kerajaan Majapahit,
dari tahun 1343 sampai tahun 1352 masih terjadi pemberontakan atau dengan
kata lain orang-orang Bali Kuno masih melakukan perlawanan. Selama sembilan
tahun masa transisi pemerintahan terjadi 30 kali pembrontakan yang menyebar
di Pulau Bali. Untuk menengahi atau mengisi kekosongan pemerintahan selama
belum ditunjuk raja baru yaitu Sri Kresna Kepakisan, maka diangkatlah
seseorang dan diberi anugrah jabatan Kyayi Agung Pasek Gelgel. Yang menjadi
pertanyaan, siapakah Kyayi Agung Pasek Gelgel? Mungkinkah beliau berasal dari
Jawa untuk menengahi perselisihan antara Bali dan Majapahit? Dalam Kamus
Jawa-Kuno oleh Zoetmulder (1995:786), kata Pasek berarti, pemberian, anugrah,
hadiah. Seandainya Kyayi Agung Pasek Gelgel itu berasal dari Jawa semestinya
beliau disebut Arya. Karena beliau berperan penting menjadi pemimpin di dalam
menengahi konflik transisi pemerintahan akhir Bali Kuno. Setelah datangnya
Danghyang Nirartta, sebutan Arya dikenal menjadi Gusti dan berubah sebutan
setelah datangnya penjajahan Belanda.
Dengan adanya konsep pemujaan Tuhan melalui Bhatara Hyang Kawitan sehingga
banyak orang-orang Bali-Mula masuk dalam satu garis keturunan Warga Pasek,
misalnya: kubahyan, tangkas, bendesa, karang buncing dan warga Bali Mula
lainnya. Warga Bali Mula yang diperlukan wibawanya dalam menjaga stabilitas
pemerintahan yang baru disebut arya misalnya, Sri Giri Ularan putra dari Sri
Rigis menjadi mahapatih (senapati) di kerajaan Dalem Baturenggong menjadi
Arya Ularan (Gusti Ularan), Keturunan Sri Karang Buncing menjadi Arya Karang
Buncing, Gusti Karang Buncing. Sri Rigis menjadi Arya Rigis, Sri Pasung Giri
menjadi Arya Pasung Giri, Si Tunjung Tutur menjadi Arya Tunjung Tutur, Si
Tunjung Biru menjadi Arya Tunjung Biru.
Pertanyaan lainnya, apa interelasi spiritual antara Gotra Pasek (Kyayi Agung
Pasek Gelgel) dengan Catur Lawa yaitu 4 (empat) kelompok tugas yang
bertanggung jawab terhadap kelancaran upacara di Pura Penataran Besakih yaitu
Dukuh, Pasek, Pande, Penyarikan, mungkinkah beliau-beliau ini keturunan Bali
Kuno. Pada era itu sistem pemerintahan ditentukan oleh fungsi (bakat) dan
pekerjaan seseorang bukan ditentukan oleh kelahirannya seperti dalam sistem
soroh (klen, kasta). Dimana persiapan upacara dan upakara akan dilakukan
ditempat di pura mana akan diadakan pujawali, ada bagian yang mengurus
tentang surat menyurat, bagian perlengkapan upakara, bagian yang berwenang
tentang simbol suci Tuhan atau pendeta yang memimpin upacara dan bagian
lainnya. Pasek dalam hal ini bukanlah sebuah treh, soroh, gotra, wangsa, klen
(kelompok warga). Pasek adalah sebuah istilah, jabatan atau bagian yang
bertugas membantu mensukseskan jalannya upakara dan upacara yang ada di Pura
Penataran Besakih. Pura Pande menata segala peralatannya yang terbuat dari
benda logam dan rangka peralatan lain. Pura Penyarikan bertugas menata segala
kebutuhan tata usaha administrasi agar segala sesuatu berjalan dengan teratur
(Gobyah, I Ketut. Bali Post 30 April 2008).
Dalam satu kelompok seksi/tugas tentu anggotanya terdiri dari beberapa orang
yang bisa saja berasal dari kelompok warga lain. Istilah Dukuh berasal dari
turunan Dukuh Gamongan dari Desa Gamongan, Tiyingtali, Karangasem, yang
melahirkan para Dukuh yang ada di jagat Bali. Kemudian ditegaskan kembali oleh
Danghyang Nirarta adalah suatu anugrah gelar Dukuh (pendeta) yang diberikan
untuk warga Bali-Mula dan Bali Kuno, walaupun dari keturunan wangsa apa pun
mereka. Dukuh adalah sebuah jabatan yang bertugas sebagai pemimpin upacara
keagamaan di Pura Besakih.
Jadi pendeta Dukuh yang memimpin upacara dan upakara di Bali pada era itu,
sebelum datangnya para Brahmana Majapahit dari Jawa. Pada zaman Gelgel datang
ke Bali dua pendeta Siwa dan Buddha dari Majapahit ialah Danghyang Nirartha
dan Danghyang Astapaka memperkuat hubungan Majapahit dan Bali. Pada waktu itu
didirikan pedharman Raja/Dalem Samprangan dan Dalem Gelgel berupa meru-meru
terletak di belakang Pura Catur Lawa.
Tentunya pendirian pedharman-pedharman itu juga melalui nyadnya craddha. Dr.
Martha A. Muuses mengidentifikasikan yadnya craddha dengan upacara mamukur di
Bali yaitu upacara mengembalikan atma ke unsur asalnya yakni Paratma. Dengan
demikian Pura Catur Lawa merupakan kumpulan orang-orang Bali Mula yang
mendapat tugas sebagai cikal bakal untuk ngamong (bertanggung jawab) terhadap
kelancaran upacara di Pura Penataran Besakih, simbol stana suci ida bhatara
gunung Agung/Tolangkir. Pura Besakih merupakan lambang satu kesatuan antara
Hindu Bali dan Hindu Majapahit.
Setelah kalahnya kerajaan Badhahulu oleh kerajaan Majapahit, terjadi dua
terapan relegi yang dianut oleh masyarakat Bali saat kini, yaitu adanya
sebagian warga atau desa yang mengikuti relegi sejarah Bali Kuno, dan ada
sebagian warga atau desa yang mengikuti relegi sejarah Majapahit, bahkan
masyarakat bisa menjalani kedua konsep tersebut, mengikuti aturan para
pimpinan yang berkuasa pada saat itu. Berikut komparasi antara, yaitu adanya
Sugiyan Jawa dan Sugiyan Bali. Dalam Usana Jawa menyebutkan, sisa tentara
Majapahit yang masih hidup dan menetap di Bali, sudah mempunyai anak cucu,
saling kawin mengawinkan berbaur, silih pinang meminang antara wanita Bali,
namun ada tanda-tandanya, jika setiap hari raya: Kamis Wage Sungsang yang
disebut Sugiyan Jawa, rakyat Majapahit yang mempunyai bagian menyelenggarakan
yadnya. Jika setiap hari Jumat Kliwon Sungsang yang disebut Sugiyan Bali,
rakyat Bali asli yang mempunyai bagian menyelenggarakan yadnya. Juga adanya
tonggak piodalan yang satu mengikuti sasih (bulan) dan yang satu lagi
mengikuti wuku (minggu). Acara pamelastian yang satu mengikuti sasih ka sanga
(bulan ke 9) dan satu lagi mengikuti sasih ka dasa (bulan ke 10). Disamping
hari penyepian di sawah, di segara, di tegalan, di pura, terdapat perbedaan
sesuai dengan dresta desa, kala, patra setempat. Juga dalam acara resi yadnya
padiksan dalam pengesahan seorang pendeta, yang satu mengikuti melalui napak
wakul bhatara kawitan, dan satu lagi mengikuti napak kaki guru nabe.
Semenjak itu juga perlahan-lahan terjadi penataan pemerintahan yang baru, baik
dalam bidang agama, sosial, politik, ekonomi, maupun kesusastraan, dan
lainnya dalam menyatukan paham Bali Kuno dengan paham Majapahit. Yang dulunya
seorang pendeta mewakili sekte/agama yang dianut, walaupun dari kelompok
keturunan mana pun beliau, misalnya; dang acharya sebutan pendeta sekte Siwa,
dang upadhyaya gelar pendeta untuk sekte Budha, Rsi Bhujangga gelar pendeta
sekte Waisnawa, Pitamaha gelar pendeta sekte Brahma, Bhagawan gelar pendeta
sekte Bhairawa, dan sebagainya. Sekarang masing-masing kelompok warga
diberikan gelar pendeta dan identitas sosial lain dalam kehidupan
bermasyarakat, misalnya: Dukuh gelar pendeta bagi warga Bali Kuno, Ida
Pedanda gelar pendeta bagi warga Ida Bagus, Sri Mpu gelar pendeta bagi warga
Pasek, Rsi Bhagawan gelar pendeta untuk warga para Gusti, Rsi Bujangga gelar
pendeta bagi warga Sengguhu, Sira Mpu gelar pendeta bagi warga Pande, dan
seterusnya, lengkap dengan aturan atiwa-tiwa/pitra yadnya dan atribut
lainnya. Pertanyaannya adalah mengikuti paham manakah pendeta para gotra
(kelompok warga) itu, apakah mengikuti paham Siwa, Boddha, Waisnawa,
Bhairawa, Sora, Sakta, Sambu, Rsi atau yang lain?
Para Arya Majapahit yang telah berjasa didalam menaklukkan rakyat Bali, lalu
dicandikan di suatu tempat untuk memuja roh leluhur yang telah suci yang ada
di Jawa sebagai penghayatan atau media terdekat dengan leluhur disebut Pura
Kawitan (stana suci para leluhur). Dalam Kamus Bali-Indonesia (Tim : 801)
menyebutkan kata Kawitan artinya leluhur, asal mula (warga, wangsa, treh, gotra).
Dengan munculnya konsep penataan pemujaan melalui Bhatara Hyang Kawitan
sehingga membawa dampak kebingungan bagi masyarakat Bali Mula untuk
menelusuri jejak-jejak para leluhur mereka yang sudah ada sebelum datangnya
sang konseptor Danghyang Nirartta dari Jawa. Para Raja dan Ksatria Bali kuno,
dan jabatan pemerintah bawahan seperti; para senapati, para pendeta, samgat,
caksu, kubayan, Si Tunjung Biru, Si Kalung Singkal, Ki Tambyak, Ki Tunjung
Tutur, Ki Kopang, Ki Bwahan, Si Pangeran Tangkas, Ki Pasung Grigis, dan
leluhur masyarakat Bali Aga dan Bali Mula yang lain, pada saat kini dimanakah
Pura Kawitan beliau-beliau itu? Dan dimanakah Padharman beliau-beliau itu?
Dengan adanya reformasi pemerintahan oleh Raja Dalem Baturenggong dengan
dibantu pendeta kerajaan Danghyang Nirartta mempunyai konsep yang sangat
cemerlang sekali menyatukan warga agar tidak tercerai berai beralih ke
agama/sekte/paham lain. Yaitu dengan konsep memuja Tuhan melalui Bhatara
Hyang Kawitan. Sesuai dengan sloka Taittiriya Upanisad menyebutkan: “Seorang
ibu adalah dewa, seorang bapak adalah dewa, seorang guru adalah dewa, dan
para tamu pun adalah dewa”. Dengan demikian secara empiris, keturunanya akan
memuja Tuhan ‘lewat’ roh suci bapak dan ibu, kakek nenek, leluhur dan
seterusnya, yang pada akhirnya akan sampai juga pada Beliau/Tuhan.
Para leluhur hanya sebatas menyaksikan dan ‘mengantarkan’ doa, maksud, dan
tujuan kepada Tuhan atau kepada dewa yang mesti disampaikan oleh para leluhur
kita.
Para leluhur adalah asal muasal kita sebagai manusia. Semenjak masih janin
dalam kandungan Ibu, kita sudah terhubung dengan-Nya (ibu) yaitu melalui tali
pusar (ari-ari). Tali pusar media penghubung kehidupan dalam kandungan antara
sang janin dengan sang ibu.
Dalam penerapan keagamaan sehari-hari ‘mungkin’ ari-ari (tali pusar) ini
disimbolkan menjadi selempot (senteng), karena selalu melekat menutupi tali
pusar umat Hindu di Bali dalam setiap menghadap-Nya Selain sebagai pengikat
panca budhiindria dan panca karmenindria, simbol mengekang sepuluh lobang
yang ada dalam tubuh pada saat seseorang berkehendak melakukan puja dan puji
terhadap Tuhan/Hyang Widhi. Walaupun seseorang memakai celana panjang jika
sudah memakai senteng/selempot akan diijinkan masuk ke pura. Senteng/selempot
hanyalah sebuah simbol dan atau sebuah peraturan. Bukankah sebuah simbol
mengandung makna tertentu dibalik simbol-simbol itu. Sama dengan seseorang
harus memiliki KTP, Passport, dan identitas lain sebagai simbol pengganti
dari seseorang jika ingin mengetahui identitas lebih lengkap tentang dirinya.
Demikian juga dengan senteng (selempot) yang mengandung makna sebagai
penghubung ke para leluhur warga, dan para leluhur akan mem-bahasa-kan doa,
maksud, dan upacara umat kepada Tuhan/Hyang Widhi. Sesungguhnya kita tidak
tahu bahasa apa yang dipakai oleh para dewa dalam berkomunikasi antara dewa
dan dewa itu sendiri.
.... kira2 demikian sejarah munculnya konsep pemujaan KAWITAN di jagat Bali
ini ...
dikutip dari : sumber
|