Minggu, 15 Maret 2020

Sundarigama; Agama, Igama, Ugama

Agama, Igama, Ugama

Ikang dharma ngaran ika, hetuning mara ring swarga ika, kadi gatining prahu, an hetuning banyaga entasing tasik.
(Sarasamuccaya 14)
Adapun yang disebut Agama (dharma) itu, adalah jalan untuk mencapai sorgalah itu, sebagai ibarat perahu, adalah merupakan alat dari nelayan untuk menyebrangi lautan.
Sebagaimana manusia beragama secara individu dan sosial, umat Hindu memiliki harapan untuk mengecap manisnya jagadhita dan moksa. Dalam proses berkeagamaan kadangkala menemukan beraneka istilah yang multi tafsir, baik tersurat dalam naskah keagamaan maupun hidup dalam kebiasaan masyarakat. Semua itu buka sekedar istilah tanpa makna dan nir-implementasi. Adalah Agama, Igama, dan Ugama merupakan istilah yang sering tersurat dalam naskah-naskah lontar yang bernuansa keagamaan Hindu di Bali yang menarik untuk dibahas dalam tulisan singkat ini.
Khusus tentang kata Agama yang mulanya bersumber dari Bahasa Sanskerta, kemudian lebih popular karena sering dirujuk sebagai istilah keyakinan yang dianggap terlembaga dan resmi diakui oleh negara RI, yakni Agama Hindu, Islam, Buddha, Kristen Katolik, Protestan, dan Konghucu. Dalam konteks lokal Hindu di Bali, kata “agama” memiliki arti lain, utamanya jika disandingkan dengan istilah Igama dan Ugama.
Agama, Igama, dan Ugama masih menyisakan pengertian dan makna bias hingga kini. Bahkan ketiga istilah ini kini pada umumnya jarang didengar dan diketahui oleh masyarakat di Bali. Bahkan ada beberapa penafsiran tentang ketiga istilah tersebut. Ketiganya ada yang dirujuk dari naskah Lontar Sundarigama, sebuah naskah yang memuat hari-hari perayaan dan ritual keagamaan Hindu. Ketiga istilah tersebut disejajarkan dengan tiga kerangka dasar agama Hindi, yakti tattwa, sila, dan acara. Agama diartikan sebagai ambek ‘sikap’ atau disejajarkan dengan sila atau susila, Igama diartikan sebagai idep ‘pikiran’ atau disejajarkan dengan tattwa ‘hakekat ketuhanan’, Ugama diartikan sebagai ulah ‘perilaku’ atau disejajarkan dengan acara ‘upacara keagamaan’.
Hal tersebut mungkin semata-mata hanya tampak berupa istilah, namun di balik itu jika dihayati, ketiga-tiganya merujuk pada manusia itu sendiri. Manusia yang bersikap, berpikir, berperilaku. Entah apa yang diamanatkan tersebut, mungkin manusia dianjurkan untuk lebih sering mengenal dirinya untuk menemukan jati diri dan peran manusia sesungguhnya dalam membangun hubungan dengan Tuhan, sesame manusia dan lingkungan alam dalam koridor harmonisasi.
Bagaimana manusia membangun jati diri lewat keagamaan agar mampu menjadi manusia seutuhnya, berkarakter, manusia yang mampu menciptakan kedamaian dimana saja, sehingga dialah yang sungguh-sungguh menjadi pengemban dharma.
Dharma tidak hanya dapat diimplementasikan dalam ruang individu, namun di dalam kehidupan sosial, masyarakat Hindu menjalankan dharma agama dan dharma negara. Begitu juga Agama, Igama, dan Ugama juga relevan ketika membicarakan implementasi dharma agama dan dharma negara. Dimana Agama diartikan sebagai hubungan harmoni dengan tata caranya yang terstruktur antara manusia dengan raja atau pemimpinnya;
Igama diartikan sebagai cara menjalin hubungan harmonis dengan Tuhan; dan Ugama, sebagai cara menjalin hubungan harmoni dengan sesama manusia yang di dalamnya juga terdapat tata cara dan pedoman perilaku yang sesuai dengan tata susila yang diamanatkan kerangka dasar agama Hindu.
Ketiga konsep ini juga kemungkinan berperan memunculkan berbagai tata cara dan tata susila di Bali. Baik dalam sistem komunikasi dalam ruang social, tata busana, jenis ritual, dan pengelompokan masyarakat. Tentunya pengelompokan masyarakat ini tidak dilihat dari sisi kasta, namun dari Catur Warna yang mengusung ideologi profesionalisme. Oleh karena itu, walaupun manusia Hindu Bali lebih tampak menjalankan aktivitas keagamaannya di ruang sosial, namun dalam mengimplementasikan Agama, Igama, dan Ugama juga terbersit pengimplementasian pada diri. Hal ini dapat dilihat dari cara-cara tertentu dalam beragama pada umumnya. Cara itu ada yang diterima dari sastra dresta ‘ajaran kitab suci dan sastra keagamaan’, kuna dresta ‘tradisi turun temurun’, kula dresta ‘dari tradisi keluarga’.
Untuk mudah menjalankan cara-cara yang ditawarkan dalam belantara Hindu, begitu juga seandainya menyelami makna Agama, Igama, dan Ugama, penganutnya diajarkan empat jalan untuk mengecap manisnya kemuliaan. Keempatnya masing-masing menawarkan metode khusus untuk menggapai tujuan keseimbangan materi/fisik, psikis, dan spiritual. Diantara keempatnya ada yang bersifat dapat diamalkan secara individu, seperti yoga marga dan jnana marga, ada pula secara yang bersentuhan dengan kehidupan sosial, seperti karma marga dan bhakti marga. Atau ada pula menjalankannya dalam kehidupan individu maupun sosial sekaligus, namun hal itu perlu disesuaikan dengan desa, kala, patra.
Oleh: I Made Arista

Kalacakra


KALACAKRA

Purwa/Timur
Om ( YANG ya namah x 5)  Svaha 
Om Kali Dewi Ya Namaha
Om Tara Dewi Ya Namaha

Maha Marutha Gayatri (Unsur)
Om Aanjane ya vidhmahi
Bayu Putra ya dheemahi
Tanno Maha Marutha Prachodayat

Maha Kali Gayatri (Shakti)
Om Maha Kali ya vidhmahi
Siva Pria ya dheemahi
Tanno Maha Kali Prachodayat

Daksina/Selatan
Om ( RANG ya namah x 9 ) Svaha
Om Bhuwaneswari Dewi Ya Namaha
Om Sodasi Dewi Ya Namaha


Maha Agni Gayatri (Unsur)
Om Mahajwala ya vidhmahi
Agni devam ya dheemahi
Tanno Maha Agni Prachodayat

Maha Saraswathi Gayatri (Shakti)
Om Maha Saraswathi ya vidhmahi
Brahma Putri ya dheemahi
Tanno Maha Saraswati Prachodayat 

Pascima/Barat
Om ( LUNG ya namah x 7 ) Svaha
Om Bhairawi Dewi Ya Namaha
Om Jinamasta Dewi Ya Namaha

Maha Perthivi Gayatri (Unsur)
Om Maha Perthivi ya vidhmahi
Antaboga ya dheemahi
Tanno Maha Perthivi Prachodayat

Maha Perthivi Gayatri (Shakti) 
Om Maha Perthivi ya vidhmahi
Sahasrara Murtha ya dheemahi 
Tanno Maha Perthivi Prachodayat
Utara
Om ( WANG ya namah x4 ) Svaha
Om Matangi Dewi Ya Namaha
Om Uma Dewi Ya Namaha

Maha Varuna Gayatri (Unsur) 
Om Jala bimbha ya vidhmahi 
Nila purusha ya dheemahi
Tanno Maha Varuna Prachodayat

Maha Lakshmi Gayatri (Shakti) 
Om Maha Lakshmae ya vidhmahi
Vishnu Padmi ya dheemahi
Tanno Maha Lakshmae Prachodayat

Madia/Tengah (Semua Peserta)
Om ( HANG Ya Namah x 8 ) Svaha
Om Kamla Dewi Ya Namaha
Om Bagla Mukli Dewi Ya Namaha

Maha Gayatri x 8 
Om Bhur
Om Bhuvaha 
Om Svaha 
Om Maha 
Om Janaha 
Om Tapaha 
Om Satyam
Om Tat Savitur Varenyam, 
Bhargo Devasaya Dheemahi 
Dhiyo Yo Nah Prachodayat

Gayatri Mantra x 8 
Om Bhur Bhuvah Svah
Om Tat Savitur Varenyam, 
Bhargo Devasaya Dheemahi 
Dhiyo Yo Nah Prachodayat

Persembahan ;
Bunga = “Om Puspa dantha ya namah” x urip masing2 
Bija = “Om Bija Kumara ya namah” x urip masing2 
Tirtha = “Om Tirtha Amertha ya namah” x urip masing2

Maha Surya Gayatri;(Pagi)
Om Baskaram Ya Vidmahi
Shree Kalacakra Ya Dheemi
Tanno Maha Surya Prachodayat

Maha Chandra Gayatri;(Malam)
Om Kshira Putra Ya Vidmahi
Amrit Tatwa Ya Dheemahi
Tanno Maha Chandra Prachodayat


 

Minggu, 01 Maret 2020

RAJAH KALACAKRA dan YAMANTAKA MANTRA

Misteri Rajah Kalacakra

YAMARAJA-JARAMAYA-YAMARANI-NIRAMAYA-YASILAPA-PALASIYA-YAMIDORA-RADOMIYA-YAMIDOSA-SADOMIYA-YADAYUDHU-DHUYUDAYA-YASIYACA-CAYASIYA-YASIHAMA-MAHASIYA

Setiap orang yang berminat dengan mantra jawa pasti tidak asing dengan kalimat-kalimat di atas. Ya, itu adalah rajah Kalacakra.
Yang diartikan seperti ini:
YAMARAJA..........JARAMAYA
siapa yang menyerang,berbalik menjadi berbelas kasihan
YAMARANI...........NIRAMAYA
siapa datang bermaksud buruk, akan menjauh
YASILAPA............PALASIYA
siapa membuat lapar akan malah memberi makan
YAMIRODA..........DAROMIYA
siapa memaksa malah menjadi memberi keleluasaan/kebebasan
YAMIDOSA..........SADOMIYA
siapa membuat salah, berbalik membuat jasa
YADAYUDA...........DAYUDAYA
siapa memerangi berbalik mengajak damai
YASIYACA..........CAYASIYA
siapa membuat celaka berbalik menjadi membuat sejahtera
YASIHAMA..........MAHASIYA
siapa membuat rusak berbalik menjadi membangun
Kala/Kolo dalam bahasa jawa diartikan sebagai sial/sesuatu yang jahat, sedangkan Cakra adalah senjata dari Batara Kresna yang digunakan untuk memusnahkan sial tersebut, jadi kalacakra diartikan sebagai penghancur sial.
Sedangkan dalam versi sansekerta, Kala merupakan dewa yang berkuasa atas waktu, sehingga Kalacakra juga bisa diartikan untuk umur panjang
Yang menarik, dalam sebuah kitab kuno di tibet yang berjudul “Sarvatathagatakayavakcitta-Krsnayamaritantra” kita menemukan sesuatu yang mirip dengan rajah kalacakra yang disebut mantra yamantaka
Berikut penggalan dari mantra yamantaka
Om Ah Hung
OM YAMARAJA
SADOMEYA /
YAMEDORU
NAYODAYA /
YADAYONI
RAYAKSHAYA /
YAKSHEYACCHA
NIRAMAYA /
HUM HUM PHAT PHAT SVAHA

OM BHUCHARANA / YA PATALA CHARAYA / MAN KHECHARAYA
/TA PURVA NIGANAM / KA DAKSHINA DIGAYA / HUM
PASHCHMI MANAM PHAT / UTTARA TIGAYA OM-I / HRIH-YA
SHTRI-VA / VI-KSHI / KRI-KO / TA-E / NA-A / NA-DE / HUM
BHYOH PHAT SARVA BHUTE BHYAH

OM DASHADIKA LOKAPALA SAPARIWARA ARGHAM PRATICCHA
HUM SVAHA
OM DASHADIKA LOKAPALA SAPARIWARA PADYAM PRATICCHA
HUM SVAHA
OM DASHADIKA LOKAPALA SAPARIWARA GANDHE PRATICCHA
HUM SVAHA
OM DASHADIKA LOKAPALA SAPARIWARA PUSHPE PRATICCHA
HUM SVAHA
OM DASHADIKA LOKAPALA SAPARIWARA DHUPE PRATICCHA
HUM SVAHA
OM DASHADIKA LOKAPALA SAPARIWARA ALOKE PRATICCHA
HUM SVAHA
OM DASHADIKA LOKAPALA SAPARIWARA NAIVIDYA PRATICCHA
HUM SVAHA
OM DASHADIKA LOKAPALA SAPARIWARA SHABDA PRATICCHA
HUM SVAHA

yaitu mantra pemujaan memohon perlindungan pada Bodhisattva Yamantaka utk menghancurkan YAMA.
Alkisah pada jaman dahulu,  Dewa diantara para Yaksa di alam kematian, Yama (Tibet) sering mencabut nyawa orang karena kurang sesaji
Akhirnya Buddha Manhjuri(utk umur panjang) mengambil bentuk ‘menjadi Yamantaka Sang Pelindung Dharma. Untuk menyadarkan Dewa Yama
Yamantaka, alias Vajra Bhairava = penghancur Yama.
Mungkin sekali rajah kalacakra yang kita kenal saat ini adalah penggalan dari Mantra Yamantaka yang tersisa, yang sudah terlupakan judul dan tujuan asalnya, yang hanya diingat  untuk umur panjang yang kemudian di identifikasikan dengan penolak sial.
Sejak jaman kehancuran Majapahit(yang menganut Hindu-Buddha), para praktisi aliran Vajrayana di humi nusantara dipaksa meng-adopsi agama dari arab, sehingga semua prakteknya tidak lagi dilakukan di tempat terbuka. candi2pamujan banyak yg dihancurkan, akhirnya  prakteknya dilakukan secara diam2 di tengah malam supaya tidak kedengaran, jadi dilakukan di BATIN (jawa-red) saja, makanya disebut kebatinan.
Terlepas dari semua itu patut menjadi perhatian bahwa ternyata kalacakra hasil gubahan leluhur di jawa ini ternyata dipercaya mempunyai khasiat dan kelebihan yang tidak kalah ampuh dengan versi aslinya
bahkan penghinaan terhadap kalacakra yang melambangkan 8 penjuru  ini di yakini bakal membawa sial terhadap yang melakukan penghinaan
konon di waktu perselisihan antara sultan hadiwijaya dan harya penangsang, sunan kudus yang membela harya penangsang menyiapkan sebuah kursi yang dirajah kala cakra untuk diduduki sultan hadiwijaya, dengan harapan setelah menduduki rajah kalacakra sang sultan akan kehilangan kesaktian dan akan terkena sial.
Tetapi malang karena tanpa sengaja harya penangsanglah yang menduduki rajah tersebut yang dipercaya sebagai awal kekalahannya dalam melawan pajang hingga akhirnya terbunuh
Apabila mempunyai rajah kalacakra ada baiknya jangan di bawa di dompet yang pasti akan diduduki karena itu di khawatirkan akan mengulangi sejarah harya penangsang yaitu mendapatkan sial

Sabtu, 29 Februari 2020

Yamantaka Mantra

Yamantaka Mantra;

Om Ah Hum
Yamaraja
Sadomeya
Yamedoru
Yayodaya
Yadayoni
Rayaksiya
Yakshiyacha
Niramaya
Hum Hum Phat Phat Svaha.



Nawagraha, mantra 9 planet

Nawagraha Mantra
- Om Oang Rang Surya Ya Namah
- Om Oang Soong Soma Ya Namah
- Om Oang Bhu Budha Ya Namah
- Om Oang Gung Wraspati Guru Ya Namah
- Om Oang Sung Sukra Guru Ya Namah
 - Om Oang Bhaung Bhaoma Manggalam Ya Namah
- Om Oang Eang Shaniscara Ya Namah
- Om Oang Rang Rahu Ya Namah
- Om Oang Bhung Kethu Ya Namah

Jumat, 24 Januari 2020

Guru berkata;

"Jangan pernah menitipkan kebahagianmu pada orang lain"

Kenapa berharap orang lain bisa membahagiakan kita sedangkan kita sendiri bisa bahagia dengan membahagiakan orang sekitar kita...

Rabu, 15 Januari 2020

5 Cara Memilih Dewasa Ayu Nganten, Upakara Bali


Om, Swastyastu, Semeton Bali! Apakah Anda berencana Nganten/menikah? Kali ini saya akan menjelaskan 5 cara mendapatkan hari baik untuk melakukan prosesi pernikahan atau dikenal dengan sebutan Dewasa Ayu Nganten, dalam Upakara Bali ini kita harus memperhatikan pakem wariga.

Standar minimal yang disebut dengan Aman dalam menjalankan kehidupan baru yang diawali dengan Natab Banten Penganten, maka dari itu, perlu diperhatikan 5 hal berikut ini, yang merupakan urutan prioritas dalam memilih dewasa ayu nganten:

#1. Wuku

#2. Dina/Hari

#3. Penanggal

#4. Sasih

#5. Subacara

Disamping itu, ada juga dalil yang perlu dan harus diperhatikan:

#a. Wewaran dikalahkan oleh wuku

#b. Wuku dikalahkan oleh penanggal

#c. Penanggal dikalahkan oleh sasih

#d. Sasih dikalahkan oleh dauh

#e. Dauh dikalahkan oleh WETUniya Sanghyang Triodasa Sakti (Kehening Hati).

Dari semuanya, yang terakhir itu cukup sulit dicapai, dan hanya sulinggihlah yang bisa melaksanakan hal terakhir tersebut secara normatif (Manah Hening), karena itulah Sulinggih disebut “Meraga Putus.”
Berikut ini penjelasan Cara Memilih Duase Ayu Nganten, Upakara Bali

1#. Wuku

Pilihan wuku-wuku di rekomendasikan, hati-hatilah memilih karena kesalahan mengambil keputusan memilih wuku ini mengakibatkan jangka menengah dalam menjalani bahtra rumah tangga Anda.
Ini beberapa wuku-wuku yang sangat direkomendasikan:

a. Landep

b. Ukir

c. Kulantir

d. Juluwangi

e. Merakih

f. Matal

g. Uye

h. Ugu

#2. Dina/Hari

Dina atau Hari merupakan bilangan Sapta Wara. Jika sudah memperhatikan Wuku, maka selanjutnya memperhatikan harinya. Didalam Wariga disebutkan Dewasa Ayu wewangun pewiwahan atau nganten dipilih pada hari:

#a. Senin atau Soma, yang mempunyai arti bertemu kebahagiaan.

#b. Rabu atau Budha, yang mempunyai arti baik.

#c. Kamis atau Wrespati, yang mempunyai arti Kinasihaning Jana (disanyangi orang banyak/masyarakat).

#d. Jum’at atau Sukra, yang mempunyai arti berbahagia/mewah.

Selain itu, sangat dilarang karena tidak baik.

#3. Penanggal

Penanggal/tanggal yang pas untuk memilih jalannya upakara pewiwahan/nganten. Perhitungan hari setelah Tilem. Penanggal yang di rekomendasikan untuk dipilih:

#a. Ping 1, artinya menemukan kebahagian.

#b. Ping 2, artinya berkecukupan.

#c. Ping 3, artinya banyak keturunan.

#d. Ping 5, artinya menemukan kebahagiaan/langgeng.

#e. Ping 7, artinya menemukan kerukunan.

#f. Ping 10, artinya murah rejeki.

#g. Ping 13, artinya mewah/berlimpah.

#4. Sasih/Bulan

Untuk sasih atau bulan direkomendasikan memilih sasih sebagai berikut:

#a. September/Katiga, Asuji=Banyak mempunyai keturunan.

#b. Oktober/Kapat, Kartika=Murah Rejeki.

#c. November/Kalima, Margasari=Mewah/berlimpah.

#d. Januari/Kapitu, Magha=Dirgayusa/langgeng.

#e. April/Kadasa, Waisyaka=Sangat baik, berbahagia, berwibawa.

#5. Subacara

Subacara merupakan hari yang paling dicari-cari dalam sebuah kegiatan Upakara Bali. Saya menyakinkan setiap hari ada baik maupun buruknya. Dan diupayakan untuk menghindari hari buruk untuk kerahayuan keluarga. Subacara ini bermakna “Nyupat” (Ngeruat) setiap keburukan yang terkandung dalam wewaran. Subacara ini jatuh pada:

#a. Senin penanggal ping 3.
#b. Rabu penggal ping 2 dan 3.
#c. Kamis penanggal ping 5.
#d. Jum’at penanggal ping 1,2 dan 3.